Kayu ulin adalah salah satu jenis kayu paling tahan lama di dunia. Di Kalimantan, kayu ini sering disebut sebagai "besi hijau" karena kekuatannya yang luar biasa dan ketahanannya terhadap serangga, jamur, dan air. Tapi kalau kamu sedang merencanakan proyek konstruksi, seperti jembatan, dermaga, atau lantai rumah, pertanyaan pertama yang muncul pasti: berapa harga pohon ulin per kubik? Jawabannya tidak sederhana. Harganya bisa berbeda dua kali lipat tergantung lokasi, kualitas, dan kondisi pasar.
Harga Kayu Ulin Per Kubik di 2025
Pada Desember 2025, harga kayu ulin di pasar lokal Kalimantan Timur berkisar antara Rp14 juta hingga Rp22 juta per meter kubik. Ini bukan harga tetap. Angka itu bisa berubah dalam hitungan minggu. Kayu ulin kelas satu - yang bebas cacat, berwarna gelap pekat, dan kering sempurna - biasanya dijual di atas Rp20 juta. Sementara kayu kelas dua atau tiga, yang mungkin masih ada retak kecil atau kadar airnya belum ideal, bisa ditemukan di kisaran Rp14 juta hingga Rp17 juta.
Di Samarinda, tempat saya tinggal, banyak pedagang yang menjual kayu ulin langsung dari hutan. Mereka biasanya menawarkan harga per kubik dengan syarat pembelian minimal 2 meter kubik. Kalau kamu beli hanya satu kubik, harganya bisa naik 10-15% karena biaya logistik dan penanganan yang lebih tinggi per unit.
Apa yang Membuat Harga Kayu Ulin Begitu Mahal?
Kayu ulin tidak murah karena memang susah didapat. Pohonnya tumbuh sangat lambat - butuh 80 sampai 120 tahun agar bisa dipanen secara berkelanjutan. Itu sebabnya pemerintah Indonesia membatasi penebangan kayu ulin. Hanya perusahaan dengan izin HPH (Hak Pengusahaan Hutan) yang boleh menebangnya, dan mereka harus menanam ulang.
Proses pengangkutan juga mahal. Kayu ulin sangat berat. Satu meter kubik beratnya sekitar 1.200 kg. Itu artinya, truk biasa hanya bisa membawa 6-7 kubik per kali angkut. Biaya angkut dari hutan ke pelabuhan di Balikpapan atau Samarinda bisa mencapai Rp2 juta per kubik, tergantung jarak.
Di luar itu, ada biaya pengolahan. Kayu ulin harus dikeringkan selama 3-6 bulan di gudang khusus agar tidak retak atau melengkung. Proses ini butuh ruang, waktu, dan pengawasan ketat. Kalau kamu lihat kayu ulin yang dijual langsung dari pohon tanpa proses pengeringan, itu bukan kayu yang aman untuk bangunan. Harganya mungkin lebih murah, tapi kamu akan rugi besar nanti.
Kayu Ulin Kalimantan vs Kayu Ulin Sulawesi
Banyak orang mengira semua kayu ulin sama. Tidak. Kayu ulin dari Kalimantan punya kepadatan dan kekuatan yang lebih tinggi dibandingkan yang berasal dari Sulawesi. Kayu ulin Kalimantan memiliki densitas sekitar 1.150-1.250 kg/m³, sementara dari Sulawesi rata-rata 1.000-1.100 kg/m³. Perbedaan ini terlihat jelas kalau kamu membandingkan dua sampel kayu: yang dari Kalimantan lebih keras, lebih sulit dipaku, dan lebih tahan terhadap kelembapan.
Harga kayu ulin Sulawesi biasanya lebih murah - sekitar Rp11 juta hingga Rp16 juta per kubik. Tapi jangan salah pilih. Kalau kamu butuh kayu untuk jembatan, dermaga, atau area yang sering terendam air, kayu dari Kalimantan adalah pilihan wajib. Kayu Sulawesi bisa dipakai untuk lantai rumah biasa, tapi tidak untuk struktur yang menahan beban berat atau terkena air laut.
Bagaimana Memilih Kayu Ulin yang Benar?
Jangan tergoda harga murah. Ada beberapa cara sederhana untuk memastikan kamu dapat kayu ulin berkualitas:
- Periksa warna: Kayu ulin asli berwarna cokelat gelap kehitaman, hampir seperti besi. Kalau terlihat kekuningan atau kecokelatan terang, itu bisa jadi kayu lain yang disamarkan.
- Uji kekerasan: Coba tekan kuku jari ke permukaan kayu. Kayu ulin asli tidak akan meninggalkan bekas. Kalau ada goresan, itu bukan ulin murni.
- Cek kekeringan: Kayu yang masih basah akan terasa berat dan lembap. Gunakan alat pengukur kadar air (moisture meter). Idealnya, kadar airnya di bawah 15%. Kayu dengan kadar air tinggi akan menyusut dan retak setelah dipasang.
- Minta sertifikat: Pedagang resmi biasanya menyediakan sertifikat dari Dinas Kehutanan atau hasil uji laboratorium. Jangan terima kayu tanpa dokumen.
Di Mana Beli Kayu Ulin yang Terpercaya?
Di Samarinda, ada beberapa toko kayu yang sudah beroperasi lebih dari 20 tahun dan punya reputasi baik. Mereka biasanya punya gudang penyimpanan sendiri dan bisa menunjukkan asal kayu dari hutan yang dikelola secara berkelanjutan. Hindari penjual pinggir jalan yang menawarkan harga sangat murah tanpa dokumen. Mereka biasanya menjual kayu ilegal atau kayu yang sudah rusak.
Beberapa perusahaan besar seperti PT Borneo Timber dan PT Kalimantan Wood Supply punya sistem online. Kamu bisa cek stok, lihat foto kayu, dan bahkan minta sampel gratis sebelum membeli. Harga mereka sedikit lebih tinggi, tapi kamu dapat jaminan kualitas dan legalitas.
Biaya Tambahan yang Sering Dilupakan
Biaya kayu ulin bukan hanya harga per kubik. Ada beberapa biaya tersembunyi yang sering bikin anggaran meledak:
- Biaya pengiriman: Bisa Rp1,5 juta hingga Rp3 juta tergantung jarak dari pusat penjualan ke lokasi proyek.
- Biaya pemotongan dan pengolahan: Kalau kamu butuh ukuran khusus, misalnya balok 10x15 cm, biayanya tambah Rp500.000 per kubik.
- Biaya pengecatan atau pelapisan: Kayu ulin tidak perlu dicat, tapi sebaiknya diberi lapisan anti-jamur dan UV protector. Biayanya sekitar Rp200.000 per meter persegi.
- Biaya tenaga kerja: Kayu ulin sangat keras. Tukang biasa kesulitan memaku atau bor. Kamu butuh tukang khusus yang berpengalaman. Biaya tenaga kerja bisa 30% lebih tinggi dibanding kayu biasa.
Kayu Ulin vs Alternatif Lain
Jika anggaran terbatas, kamu bisa pertimbangkan alternatif kayu yang lebih murah tapi tetap tahan lama:
| Kayu | Harga per m³ (2025) | Ketahanan | Umur Pakai | Kelebihan |
|---|---|---|---|---|
| Kayu Ulin (Kalimantan) | Rp14-22 juta | Sangat tinggi | 50-100 tahun | Tahan air, serangga, api |
| Kayu Jati | Rp10-15 juta | Tinggi | 30-50 tahun | Indah, mudah diolah |
| Kayu Merbau | Rp8-12 juta | Sedang-tinggi | 20-40 tahun | Warna merah, tahan kelembapan |
| Kayu Kelapa (Treated) | Rp5-7 juta | Sedang | 10-15 tahun | Termurah, ramah lingkungan |
Kayu ulin tetap yang terbaik untuk proyek jangka panjang. Tapi kalau kamu hanya butuh lantai rumah biasa dan tidak ingin menghabiskan ratusan juta, kayu merbau atau jati yang sudah diolah bisa jadi pilihan cerdas.
Peringatan: Jangan Beli Kayu Ulin Ilegal
Di beberapa daerah, masih ada pedagang yang menjual kayu ulin hasil penebangan liar. Ini tidak hanya ilegal - ini merusak ekosistem hutan. Kayu ilegal tidak punya sertifikat, tidak bisa dipastikan asalnya, dan biasanya tidak diproses dengan benar. Kalau kamu beli kayu seperti ini, kamu berisiko:
- Proyek rusak karena kayu cepat lapuk
- Dikenai sanksi hukum jika terdeteksi oleh petugas kehutanan
- Menjadi bagian dari rantai perdagangan yang merusak lingkungan
Pilihlah pedagang yang jelas asal kayunya dan bisa menunjukkan dokumen legal. Lebih baik mengeluarkan uang lebih banyak sekarang daripada merenung selama bertahun-tahun karena proyekmu rusak.
Kesimpulan: Apa yang Harus Kamu Lakukan Sekarang?
Jika kamu serius membangun sesuatu yang tahan lama - jembatan, dermaga, lantai rumah di daerah basah - maka kayu ulin adalah pilihan terbaik. Harganya memang tinggi, tapi itu investasi. Kayu ini bisa bertahan lebih dari 50 tahun tanpa perlu diganti.
Langkah pertama: tentukan kebutuhanmu. Apakah kamu butuh kayu untuk struktur berat atau hanya lantai? Cari tahu lokasi terdekat yang menjual kayu ulin legal. Hubungi minimal tiga penjual. Minta sampel. Tanyakan asal kayu. Bandingkan harga per kubik, bukan per batang.
Jangan terburu-buru. Kayu ulin bukan barang yang bisa dibeli dadakan. Butuh waktu untuk pengiriman, pengeringan, dan pemotongan. Rencanakan minimal 2-3 bulan sebelum proyek dimulai.
Kayu ulin bukan sekadar kayu. Ini adalah warisan alam yang harus dihargai. Kalau kamu memilihnya, pastikan kamu memilihnya dengan benar - untuk kekuatan, untuk keberlanjutan, dan untuk masa depan.
Berapa harga kayu ulin per kubik di Samarinda tahun 2025?
Harga kayu ulin di Samarinda pada Desember 2025 berkisar antara Rp14 juta hingga Rp22 juta per meter kubik. Harga tergantung pada kualitas kayu, asalnya (Kalimantan atau Sulawesi), dan apakah sudah melalui proses pengeringan. Kayu kelas satu dari hutan terkelola dengan baik biasanya di atas Rp20 juta.
Kenapa harga kayu ulin lebih mahal dari kayu jati?
Kayu ulin lebih mahal karena pertumbuhannya sangat lambat (80-120 tahun), kepadatannya tinggi (1.200 kg/m³), dan ketahanannya luar biasa terhadap air, serangga, dan jamur. Kayu jati lebih mudah ditebang dan diproses, sehingga harganya lebih rendah. Ulin bisa bertahan 50-100 tahun, sementara jati sekitar 30-50 tahun.
Bisakah kayu ulin digunakan untuk lantai rumah biasa?
Bisa, dan sebenarnya sangat bagus. Kayu ulin sangat tahan terhadap kelembapan dan goresan, cocok untuk rumah di daerah tropis. Tapi karena harganya tinggi dan pemasangannya butuh tenaga ahli, banyak orang memilih alternatif seperti merbau atau jati yang lebih terjangkau untuk rumah biasa.
Bagaimana cara membedakan kayu ulin asli dan palsu?
Kayu ulin asli berwarna gelap pekat, sangat berat, dan tidak bisa digores dengan kuku. Gunakan alat pengukur kadar air - kadar air ideal di bawah 15%. Pastikan penjual menyediakan sertifikat asal kayu dari Dinas Kehutanan. Kayu palsu biasanya lebih ringan, berwarna terang, dan cepat retak setelah dipasang.
Apakah ada kayu ulin dari luar negeri yang lebih murah?
Tidak ada. Kayu ulin adalah spesies endemik Indonesia, terutama Kalimantan. Kayu dari negara lain yang dijual sebagai "ulin" biasanya adalah kayu lain yang disamarkan, seperti kayu belian dari Malaysia atau kayu besi dari Afrika. Kualitasnya jauh lebih rendah dan tidak tahan lama seperti ulin asli Indonesia.
shintap yuniati
Rp22 juta per kubik? Haha, kalau beli buat lantai rumah, nanti suami ngomel karena gak ada uang buat beli nasi goreng. Kayu ulin emang kuat, tapi bukan berarti kita harus jadi orang kaya dulu buat pakai itu.
Belinya di pinggir jalan aja, yang harganya setengah, terus pakai pelapis anti-jamur. Masih lebih hemat daripada ngutang ke bank.
ika ratnasari
Saya pernah pake kayu ulin buat dermaga kecil di rumah pesisir, dan sampai sekarang masih utuh setelah 8 tahun. Yang penting jangan tergoda harga murah. Kayu yang udah kering dan punya sertifikat itu investasi jangka panjang. Kamu nggak bakal nyesel, percaya deh.
Kalau mau mulai, coba cari yang dari hutan berkelanjutan. Kita bisa bangun rumah sekaligus jaga alam.
Ina Shueb
OHHH MY GODDDDDD ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Kayu ulin itu bukan cuma kayu, itu adalah RAHASIA ALAM YANG DITITIPKAN TUHAN BUAT KITA YANG PUNYA VISI PANJANG!!
Bayangin, pohon yang tumbuh 120 tahun, baru bisa dipakai buat lantai kamu? Itu bukan kayu, itu adalah KISAH HIDUP YANG DIJADIKAN BALOK!!
Trus kamu masih mikir mau pake kayu kelapa treated yang umurnya 15 tahun? Sayang banget sama bumi, sayang banget sama generasi mendatang!!
Saya nangis pas baca bagian biaya tenaga kerja, soalnya tukang saya nangis juga pas nyobain paku ke ulin, langsung bengkok!!
Ini bukan belanja, ini adalah PILIHAN HIDUP. Jangan cuma lihat harga, lihat warisan. Jangan cuma lihat lantai, lihat sejarah.
Kalau kamu beli ulin ilegal, kamu bukan cuma merusak hutan, kamu merusak DOA PARA KAKEK-YANG-TUA-YANG-MENANAM-POHON-INI!!
Yuk, mulai dari sekarang. Beli yang legal. Beli yang berani. Beli yang punya jiwa.
Syam Pannala
Gue baru aja beli 3 kubik dari PT Borneo Timber, harga Rp20,5 juta per kubik, termasuk pengiriman ke Bandung. Gak murah, tapi worth it.
Yang penting, minta sampel dulu. Gue test pake kuku, gak ada jejak. Kadar airnya 12%, sertifikat lengkap. Tukangnya juga bilang, ini kayu paling enak dipaku kalau udah kering beneran.
Nah, kalo ada yang bilang bisa dapet Rp10 juta, tanya: 'dari mana asalnya?' Kalau jawabnya 'dari hutan deket sini', langsung lari. Itu kayu ilegal atau udah basah.
Hery Setiyono
Harga kayu ulin memang tinggi. Tapi sebenarnya, ini masalah supply chain yang tidak efisien. Jika ada lebih banyak hutan terkelola dan logistik yang terintegrasi, harga bisa turun. Sayangnya, birokrasi dan korupsi di sektor kehutanan masih jadi penghambat utama. Mungkin pemerintah perlu mempertimbangkan insentif bagi pengusaha yang memakai sistem traceability.
Made Suwaniati
Jangan beli yang murah kalau buat dermaga. Kayu ulin itu investasi. Kalau mau hemat, pake merbau. Tapi kalau mau tahan 50 tahun, ya ulin. Gak usah ribet. Pilih yang punya sertifikat. Gak usah tanya banyak. Gak usah nego. Langsung beli.
Suilein Mock
The semantic framing of this article, while ostensibly informative, perpetuates a latent anthropocentric bias in environmental discourse. The valorization of Ulit as a "heritage" implicitly legitimizes its extraction under the guise of "sustainable management," a paradoxical oxymoron when applied to a species with a 120-year maturation cycle. The legal framework of HPH, far from being a conservationist instrument, functions as a bureaucratic mechanism for the commodification of ecological time. One must ask: if the tree requires a century to reach commercial viability, does the market have the moral authority to demand its death? The answer, in any ethical system predicated on intergenerational justice, is unequivocally no.
Bagus Budi Santoso
Gue cuma mau ngingetin, jangan lupa cek kadar airnya, ya, karena kalau nggak, nanti retak, dan kalo retak, nanti bocor, dan kalo bocor, nanti jamuran, dan kalo jamuran, nanti rusak, dan kalo rusak, nanti kamu nangis, dan kalo kamu nangis, nanti istri kamu marah, dan kalo istri kamu marah, nanti kamu nggak bisa tidur, dan kalo nggak bisa tidur, nanti kamu nggak bisa kerja, dan kalo nggak bisa kerja, nanti kamu bangkrut, dan kalo bangkrut, nanti kamu jual rumah, dan kalo jual rumah, nanti kamu tinggal di gubuk, dan kalo tinggal di gubuk, nanti kamu nyesel beli kayu ulin yang nggak kering
Tulis komentar