Kayu myrtle sering jadi pilihan saat kamu butuh bahan yang tahan lama dan tampilannya elegan, terutama untuk lantai, perabot, atau detail dekorasi rumah. Tapi banyak yang bertanya: kayu myrtle mahal nggak? Jawabannya: ya, harganya lebih tinggi dari kayu lokal umum, tapi tidak se-mahal kayu ulin. Dan perbandingannya dengan kayu bengkirai jadi kunci utama buat nentuin apakah ini worth it atau tidak.
Apa Itu Kayu Myrtle?
Kayu myrtle, atau dalam nama ilmiahnya Myrtus communis, bukan kayu lokal Indonesia. Ini berasal dari wilayah Mediterania-terutama Italia, Spanyol, dan Sisilia. Kayu ini termasuk jenis hardwood dengan serat halus, warna coklat kemerahan, dan tekstur yang sangat halus. Karena sifatnya yang stabil dan tahan terhadap perubahan cuaca, kayu myrtle banyak dipakai di Eropa untuk perabot mewah, alat musik, dan bahkan lantai kayu di rumah-rumah klasik.
Di Indonesia, kayu myrtle diimpor dalam bentuk papan atau balok, dan biasanya dipakai untuk proyek-proyek yang menuntut estetika tinggi. Jangan sampai salah paham: ini bukan kayu yang tahan rayap seperti ulin, tapi kekuatannya cukup baik untuk penggunaan indoor. Karena produksinya terbatas dan pohonnya tumbuh lambat, pasokannya tidak sebanyak kayu lokal.
Harga Kayu Myrtle Saat Ini (2025)
Berdasarkan data pasar di Samarinda dan Surabaya akhir 2025, harga kayu myrtle berkisar antara Rp 12.500.000 hingga Rp 18.000.000 per meter kubik. Harga ini tergantung pada kualitas, ketebalan papan, dan apakah sudah dikeringkan secara kiln-dried atau belum.
- Papan myrtle kelas A (bebas cacat, warna seragam): Rp 16.000.000 - Rp 18.000.000/m³
- Papan myrtle kelas B (ada sedikit warna berbeda atau sedikit mata kayu): Rp 12.500.000 - Rp 14.500.000/m³
- Biaya impor dan bea masuk sudah termasuk
Bandingkan dengan kayu bengkirai, yang harganya sekitar Rp 7.500.000 - Rp 9.500.000 per meter kubik. Jadi, myrtle harganya sekitar 70% lebih mahal. Tapi ini bukan soal harga semata-ini soal nilai yang kamu dapatkan.
Kayu Myrtle vs Kayu Bengkirai: Perbandingan Lengkap
| Parameter | Kayu Myrtle | Kayu Bengkirai |
|---|---|---|
| Sumber | Impor (Eropa) | Lokal (Kalimantan) |
| Warna | Coklat kemerahan, serat halus | Kuning kecoklatan, serat kasar |
| Kekuatan (Janka Hardness) | 1.300 lbf | 1.200 lbf |
| Tahan Rayap | Tinggi (tapi perlu perlakuan) | Sangat tinggi (alami) |
| Tahan Air | Baik untuk indoor | Baik untuk outdoor |
| Stabilitas Dimensi | Sangat stabil, tidak mudah menyusut | Cenderung menyusut jika tidak dikeringkan baik |
| Harga (per m³) | Rp 12.500.000 - Rp 18.000.000 | Rp 7.500.000 - Rp 9.500.000 |
| Penggunaan Umum | Lantai, perabot, detail dekoratif | Struktur, tiang, lantai luar, jembatan |
Jika kamu cari kekuatan alami dan ketahanan terhadap cuaca ekstrem, bengkirai tetap juaranya. Tapi kalau kamu ingin tampilan yang lebih halus, warna yang lebih hangat, dan tekstur yang lebih halus untuk interior rumah-myrtle jadi pilihan yang lebih bernilai estetika.
Kenapa Kayu Myrtle Harganya Mahal?
Ada tiga alasan utama mengapa kayu myrtle tidak murah:
- Produksi terbatas-Pohon myrtle tumbuh sangat lambat, dan hanya daerah tertentu di Eropa yang bisa memanennya secara berkelanjutan. Tidak ada perkebunan besar seperti jati atau bengkirai.
- Proses pengolahan rumit-Kayu ini butuh pengeringan yang sangat presisi agar tidak retak. Proses kiln-drying-nya memakan waktu lebih lama dan butuh energi lebih banyak.
- Biaya impor dan logistik-Dari Italia ke Samarinda, biaya transportasi laut, bea masuk, dan biaya pengiriman lokal menambah harga jauh lebih tinggi daripada kayu lokal yang langsung dipotong di Kalimantan.
Ini bukan kayu yang bisa kamu beli di pasar tradisional. Kamu harus cari supplier khusus kayu impor, dan biasanya butuh pemesanan minimal 1-2 meter kubik.
Apakah Kayu Myrtle Layak Dibeli?
Jawabannya tergantung pada kebutuhanmu:
- Layak dibeli jika kamu ingin lantai kayu di ruang tamu, meja makan mewah, atau panel dinding yang terlihat premium. Kayu myrtle memberi kesan klasik, tenang, dan elegan-cocok untuk gaya desain Scandi, Japandi, atau kontemporer.
- Tidak perlu dibeli jika kamu cuma butuh bahan untuk struktur rumah, teras luar, atau tiang. Di sini, bengkirai jauh lebih efisien-harganya separuh, tapi kekuatannya lebih unggul untuk beban berat dan paparan cuaca.
Contoh nyata: Seorang arsitek di Balikpapan pakai myrtle untuk lantai ruang keluarga 30 m². Biaya total sekitar Rp 54 juta (termasuk pemasangan). Dua tahun kemudian, lantainya masih seperti baru-tidak ada retak, tidak ada perubahan warna, dan tidak ada yang bilang itu "kayu murah". Sementara tetangganya yang pakai bengkirai di ruang yang sama, setelah satu tahun sudah mulai terlihat kusam dan butuh perawatan ulang.
Perawatan Kayu Myrtle
Kayu myrtle tidak butuh perawatan ekstra, tapi tetap perlu perhatian:
- Gunakan pelapis berbasis minyak alami (seperti tung oil atau linseed oil) setiap 1-2 tahun untuk menjaga warna.
- Hindari pembersih berbahan kimia keras. Gunakan kain lembab dan sabun netral.
- Jangan biarkan air menumpuk di permukaan-meski tahan air, kelembapan berlebih bisa merusak lapisan finish.
- Untuk daerah lembap seperti Samarinda, pastikan ventilasi ruangan baik agar kelembapan tidak terakumulasi.
Alternatif Lain Jika Myrtle Terlalu Mahal
Jika anggaran terbatas tapi tetap ingin tampilan serupa, pertimbangkan:
- Kayu jati belanda-Harganya sekitar Rp 10.000.000/m³, warnanya agak lebih terang tapi teksturnya halus dan stabil.
- Kayu merbau-Harga Rp 8.500.000/m³, warnanya lebih gelap, tapi tahan rayap dan bisa jadi pengganti bengkirai yang lebih estetis.
- Kayu ebony lokal (kayu hitam)-Kalau kamu cari warna gelap dan mewah, ini bisa jadi pilihan, meski harganya bisa menyamai myrtle.
Tapi ingat: tidak ada yang benar-benar meniru kehalusan serat dan warna alami myrtle. Ini bukan kayu yang bisa disamakan dengan yang lain.
Kesimpulan: Mahal, Tapi Bukan Karena Ego
Kayu myrtle memang mahal. Tapi harganya tidak naik karena "branding" atau karena orang-orang suka pamer. Harganya tinggi karena produksinya susah, prosesnya rumit, dan kualitasnya konsisten. Kalau kamu punya anggaran dan ingin sesuatu yang tahan lama, indah, dan tidak biasa-myrtle adalah investasi jangka panjang.
Tapi kalau kamu cuma butuh kayu kuat untuk struktur, atau ingin hemat biaya-bengkirai tetap pilihan terbaik. Keduanya punya tempatnya. Jangan pilih myrtle karena kamu pikir itu "lebih bagus". Pilih karena kamu butuh keindahan yang tahan lama, bukan karena kamu ingin terlihat kaya.
Berapa lama umur kayu myrtle jika dipakai untuk lantai?
Dengan perawatan rutin, lantai kayu myrtle bisa bertahan 40-60 tahun. Banyak rumah di Eropa yang masih pakai lantai myrtle dari tahun 1950-an dan kondisinya masih bagus. Di Indonesia, dengan kelembapan tinggi, umurnya bisa 30-40 tahun jika ventilasi baik dan tidak terkena genangan air.
Bisa dipakai untuk eksterior seperti teras?
Bisa, tapi tidak disarankan tanpa perlakuan khusus. Kayu myrtle tahan air, tapi tidak sekuat bengkirai atau ulin dalam paparan sinar matahari langsung dan hujan lebat. Jika dipakai di teras, harus dilapisi dengan cat khusus kayu eksterior dan diolesi ulang setiap tahun.
Apakah kayu myrtle ramah lingkungan?
Ya, jika berasal dari hutan yang dikelola secara berkelanjutan (FSC-certified). Di Eropa, penebangan myrtle sangat terkontrol dan pohonnya ditanam ulang. Tapi pastikan supplier kamu bisa memberikan sertifikat keberlanjutan. Kayu yang tidak bersertifikat bisa berasal dari penebangan ilegal.
Di mana bisa beli kayu myrtle di Kalimantan?
Di Samarinda dan Balikpapan, ada beberapa supplier kayu impor yang khusus menyediakan myrtle. Contohnya: PT Kayu Eropa Indonesia di Jl. A. Yani, Samarinda, dan CV. Wood Import Asia di Jl. Pahlawan, Balikpapan. Biasanya mereka butuh pemesanan minimal 1 m³ dan waktu pengiriman 6-8 minggu.
Apakah kayu myrtle bisa diwarnai ulang?
Bisa, tapi tidak disarankan. Warna alami myrtle sangat stabil dan tidak mudah pudar. Jika kamu ingin warna lebih gelap, lebih baik pakai minyak berwarna alami seperti walnut oil. Cat atau pernis berbahan kimia bisa merusak serat dan membuatnya terlihat plastik.