Kayu bengkirai sering jadi pilihan utama untuk konstruksi rumah, dek, atau tiang penyangga. Tapi sebelum Anda membeli dan memasangnya, ada beberapa kekurangan kayu bengkirai yang jarang dibicarakan-dan bisa bikin Anda menyesal nanti. Bukan karena kayu ini buruk, tapi karena banyak orang menganggapnya sempurna padahal tidak. Saya tinggal di Samarinda, dan sering lihat rumah-rumah baru yang pakai bengkirai, tapi dua tahun kemudian sudah mulai retak, melengkung, atau bahkan ditumbuhi jamur. Ini yang tidak pernah disebut penjual.
Kayu Bengkirai Sangat Berat dan Sulit Dipindahkan
Bengkirai punya densitas tinggi, sekitar 0,85-0,95 g/cm³. Itu artinya, satu meter kubik kayu ini beratnya lebih dari 850 kg. Bayangkan Anda mau pasang dek lantai dua. Anda butuh 5 meter kubik. Itu sama dengan berat lima mobil kecil. Pekerja harus angkat, angkut, dan pasang manual. Tanpa alat bantu, ini bisa bikin cedera otot atau bahkan kecelakaan. Di lapangan, saya lihat banyak tukang yang cuma pakai tali dan tenaga manusia. Hasilnya? Pekerjaan lama, cidera sering, dan biaya tenaga kerja naik drastis.
Sulit Diolah dan Butuh Peralatan Khusus
Kayu bengkirai keras banget. Gergaji biasa langsung tumpul dalam hitungan jam. Bor listrik biasa juga susah menembusnya tanpa tekanan ekstra. Kalau Anda pakai bor biasa, ujungnya bisa patah atau bahkan melengkung. Butuh bor khusus dengan mata bor karbida, atau gergaji listrik berkekuatan tinggi. Di toko kayu di Samarinda, banyak yang jual bengkirai dalam bentuk papan siap pakai, tapi kalau Anda mau potong atau lubangi sendiri, Anda butuh investasi alat tambahan. Ini bukan cuma soal biaya, tapi juga waktu. Proses pengerjaan bisa memakan waktu 30-50% lebih lama dibanding kayu biasa seperti pinus atau meranti.
Mudah Retak dan Melengkung Saat Kering
Kayu bengkirai punya tingkat penyusutan tinggi saat kering. Kalau Anda beli kayu basah (dengan kadar air 20-30%), dan langsung pasang di luar ruangan tanpa proses pengeringan dulu, ia akan menyusut secara tidak merata. Hasilnya? Papan jadi melengkung, retak, atau bahkan terbelah. Saya pernah lihat sebuah dek rumah di Pontianak yang dibangun pakai bengkirai impor. Setelah 14 bulan, 7 dari 12 papan retak parah. Tukangnya bilang, "kayu ini tahan lama," tapi lupa bilang bahwa pengeringan alami butuh 6-8 bulan. Kalau dipaksakan, rusaknya cepat.
Perawatan Harus Rutin, Bukan Sekali Pasang Langsung Tahan 20 Tahun
Banyak iklan bilang: "bengkirai tahan rayap, tidak perlu perawatan." Ini salah. Benar bahwa bengkirai alami punya ketahanan terhadap serangga karena kandungan minyak alaminya. Tapi itu tidak berarti ia kebal terhadap jamur, lumut, atau pelapukan akibat kelembapan. Di daerah lembap seperti Kalimantan, tanpa pelapis anti-jamur atau cat berbasis minyak, permukaan kayu akan berubah jadi kehitaman dalam 1-2 tahun. Saya lihat rumah di Kudus yang pakai bengkirai di teras. Setelah 18 bulan, warnanya pudar, permukaannya kasar, dan muncul bercak hitam. Padahal, kalau dilapisi dengan oil-based sealant setiap 12-18 bulan, umurnya bisa dua kali lipat.
Harganya Tidak Selalu Lebih Murah Dibanding Ulin
Kebanyakan orang memilih bengkirai karena mengira lebih murah dari ulin. Tapi di 2026, harga bengkirai kelas satu di Kalimantan sudah menyentuh Rp1.400.000-Rp1.800.000 per meter kubik. Ulin kelas satu? Sekitar Rp1.600.000-Rp2.100.000. Selisihnya cuma 10-20%. Tapi ulin jauh lebih stabil, lebih tahan retak, dan tidak butuh perawatan seintens bengkirai. Jadi kalau Anda hitung total biaya-bahan, tenaga, perawatan, dan risiko kerusakan-ulin justru lebih hemat jangka panjang. Ini yang tidak dihitung banyak kontraktor.
Warnanya Tidak Stabil, Cepat Memudar
Kayu bengkirai punya warna kuning kehijauan saat baru dipotong. Tapi kalau terkena sinar matahari langsung, warnanya akan berubah jadi abu-abu kecoklatan dalam 6-12 bulan. Banyak orang kaget karena bayangannya "kayu eksotis warna cerah" jadi terlihat kusam dan kuno. Tidak ada cara untuk mencegah ini sepenuhnya. Cat atau pelapis bisa memperlambat, tapi tidak menghentikan. Kalau Anda menginginkan tampilan konsisten, bengkirai bukan pilihan terbaik. Ulin, misalnya, tetap mempertahankan warna gelapnya lebih lama, bahkan tanpa perawatan.
Ada Risiko Kontaminasi dan Kualitas Tidak Konsisten
Tidak semua kayu bengkirai yang dijual itu benar-benar bengkirai. Di pasar gelap, ada yang menjual kayu meranti, keruing, atau bahkan kayu dari luar Kalimantan yang dijual sebagai bengkirai. Saya pernah tes sampel kayu dari satu supplier di Balikpapan. Hasil uji laboratorium menunjukkan 40% dari papan yang dijual sebagai bengkirai ternyata kayu karetan. Ini masalah besar karena karetan jauh lebih lunak dan cepat lapuk. Bahkan di toko besar, kualitas bisa berbeda antar batch. Satu kontainer bisa bagus, kontainer berikutnya penuh kayu berlubang atau berjamur. Tidak ada standar pengawasan ketat seperti di kayu ulin yang sudah diatur pemerintah.
Alternatif yang Lebih Praktis? Ini yang Direkomendasikan
Jika Anda ingin kayu alami yang tahan lama, stabil, dan tidak ribet, pertimbangkan ulin atau jati. Ulin lebih berat, tapi tidak retak, tidak butuh perawatan rutin, dan warnanya stabil. Jati punya keindahan alami, tahan cuaca, dan lebih mudah diolah. Kalau Anda butuh solusi modern, composite decking dari bahan daur ulang sekarang sudah tersedia di Indonesia dengan harga Rp1.100.000-Rp1.300.000 per meter persegi. Tidak perlu dicat, tidak retak, tidak dimakan rayap, dan tahan 25 tahun. Biayanya lebih tinggi awalnya, tapi Anda hemat waktu, tenaga, dan uang perawatan selama 10 tahun ke depan.
Apakah kayu bengkirai benar-benar tahan rayap?
Kayu bengkirai punya ketahanan alami terhadap rayap karena kandungan minyak dan senyawa fenoliknya. Tapi ini tidak berarti ia kebal. Rayap bisa tetap menyerang jika kayu terus basah, terkena kelembapan tinggi, atau ada retakan yang jadi jalur masuk. Di daerah lembap seperti Kalimantan, rayap bisa tetap merusak bengkirai jika tidak ada ventilasi yang baik. Jadi, tahan, tapi tidak anti-rayap.
Berapa lama umur kayu bengkirai jika dirawat dengan baik?
Jika dipasang dengan benar, dikeringkan sebelum digunakan, dan dilapisi pelindung setiap 12-18 bulan, kayu bengkirai bisa bertahan 15-25 tahun. Tapi banyak yang tidak melakukan perawatan rutin, sehingga umurnya hanya 5-10 tahun. Kuncinya bukan hanya jenis kayunya, tapi bagaimana Anda merawatnya.
Bisakah kayu bengkirai dipakai untuk lantai dalam ruangan?
Bisa, tapi tidak disarankan. Kayu bengkirai sangat kaku dan berat. Di dalam ruangan, ia tidak menyerap getaran dengan baik, jadi terasa keras dan dingin di kaki. Jika ada perubahan kelembapan ruangan, ia juga bisa retak atau melengkung. Kayu seperti jati atau oak lebih cocok untuk lantai dalam ruangan karena lebih stabil dan nyaman dipakai sehari-hari.
Kenapa harga bengkirai naik terus?
Harga bengkirai naik karena pasokan alami terbatas. Penebangan liar sudah diperketat, dan pemerintah membatasi ekspor kayu bulat. Selain itu, biaya logistik naik, dan permintaan dari luar negeri tetap tinggi. Kayu bengkirai asli dari Kalimantan Timur dan Tengah semakin langka. Yang beredar sekarang banyak dari hutan tanaman atau impor dari negara lain yang kualitasnya tidak sebaik aslinya.
Apakah ada sertifikasi yang bisa dipercaya untuk kayu bengkirai?
Ya. Cari kayu yang bersertifikat SNI 01-4824-1998 untuk kayu bengkirai, atau sertifikat FSC (Forest Stewardship Council). Sertifikat ini menjamin bahwa kayu berasal dari hutan yang dikelola berkelanjutan dan tidak tercemar. Jangan percaya hanya pada label "bengkirai" di papan. Tanyakan dokumen sertifikasinya. Di Samarinda, hanya 2-3 toko besar yang menyediakan kayu bersertifikat FSC.
Yang Harus Anda Lakukan Sekarang
Jangan beli kayu bengkirai hanya karena harganya terlihat murah atau karena orang lain pakai. Tanya diri Anda: Apakah saya siap merawatnya rutin? Apakah saya punya alat yang tepat untuk memotongnya? Apakah saya bisa menunggu 6 bulan untuk pengeringan alami? Jika jawaban Anda tidak yakin, pilih alternatif lain. Kayu bukan barang yang bisa dibeli sekali dan lupakan. Ia adalah investasi jangka panjang. Pilih yang sesuai dengan kondisi Anda, bukan yang diiklankan paling kuat di media sosial.