Kayu ulin sering jadi pilihan utama saat membangun rumah, jembatan, atau dermaga yang butuh ketahanan ekstra. Tapi banyak yang masih bingung: kayu ulin kelas awet berapa? Jawabannya sederhana: kayu ulin masuk kelas awet 1. Ini artinya, kayu ini tahan hingga 25 tahun lebih di luar ruangan tanpa perawatan khusus. Bahkan di lingkungan lembap seperti Kalimantan, kayu ini bisa bertahan lebih dari 50 tahun jika dipasang dengan benar.
Apa itu kelas awet kayu?
Kelas awet adalah sistem klasifikasi yang menunjukkan seberapa lama kayu bisa bertahan terhadap serangan jamur, rayap, dan jamur pelapuk. Sistem ini dibuat berdasarkan uji coba laboratorium dan pengamatan lapangan. Ada lima kelas awet, dari yang paling rendah (kelas 5) hingga paling tinggi (kelas 1).
Kelas 5: Tahan kurang dari 5 tahun. Kayu ini tidak cocok untuk luar ruangan.
Kelas 4: Tahan 5-10 tahun. Bisa dipakai untuk atap atau pagar, tapi butuh perawatan rutin.
Kelas 3: Tahan 10-15 tahun. Umum dipakai untuk lantai rumah atau perabot indoor.
Kelas 2: Tahan 15-25 tahun. Cocok untuk konstruksi ringan di luar ruangan.
Kelas 1: Tahan lebih dari 25 tahun. Ini kelas tertinggi. Kayu ulin masuk di sini, bersama dengan kayu besi dan kayu gaharu.
Artinya, kayu ulin bukan cuma kuat. Ia adalah salah satu dari sedikit kayu alami yang bisa menggantikan baja atau beton di area yang terkena air dan kelembapan tinggi.
Kenapa kayu ulin Kalimantan paling dicari?
Kayu ulin yang berasal dari Kalimantan punya reputasi lebih baik dibanding yang dari daerah lain. Ini bukan karena mitos. Ada alasan ilmiahnya.
Kayu ulin Kalimantan tumbuh di hutan primer dengan tanah kaya nutrisi dan iklim tropis yang stabil. Pertumbuhannya lambat - bisa 80-120 tahun untuk mencapai ukuran siap tebang. Hasilnya, serat kayunya sangat padat, densitasnya mencapai 1,2-1,3 g/cm³. Untuk perbandingan, kayu jati hanya sekitar 0,8 g/cm³.
Kepadatan tinggi ini membuat kayu ulin hampir tidak bisa ditembus oleh air, jamur, atau serangga. Bahkan rayap pun enggan memakan kayu ini. Di beberapa uji coba di laboratorium, rayap tidak bisa menggigit kayu ulin dalam waktu lebih dari 6 bulan, sementara kayu jati sudah hancur dalam 3 minggu.
Itu sebabnya, proyek-proyek besar di Indonesia seperti dermaga di Pontianak, jembatan di Banjarmasin, atau bangunan tahan gempa di Palangkaraya, hampir semuanya memakai kayu ulin Kalimantan.
Beda kayu ulin Kalimantan dan Sulawesi
Beberapa penjual mencoba menjual kayu ulin dari Sulawesi sebagai pengganti Kalimantan. Harganya lebih murah, tapi kualitasnya jauh berbeda.
Kayu ulin Sulawesi tumbuh lebih cepat karena tanahnya kurang subur dan iklimnya lebih kering. Densitasnya rata-rata hanya 0,9-1,0 g/cm³. Artinya, kayu ini lebih ringan, lebih mudah menyerap air, dan lebih rentan terhadap jamur dalam jangka panjang.
Di lapangan, kayu ulin Sulawesi mulai menunjukkan tanda kerusakan setelah 10-15 tahun. Sementara kayu ulin Kalimantan yang dipasang di tahun 2000 masih berdiri kokoh hingga 2025 - tanpa pengecatan ulang, tanpa perawatan, bahkan tanpa pelapis anti-rayap.
Perbedaan ini penting kalau Anda membangun sesuatu yang ingin bertahan puluhan tahun. Jangan tergoda harga murah. Kayu ulin Sulawesi mungkin cocok untuk perabot indoor, tapi bukan untuk struktur utama bangunan.
Apa yang membuat kayu ulin tahan lama?
Kayu ulin punya tiga keunggulan alami yang tidak dimiliki kayu lain:
- Minyak alami (extractive content): Kayu ini mengandung senyawa fenolik dan terpenoid dalam jumlah tinggi. Ini adalah racun alami bagi jamur dan serangga. Tidak perlu bahan kimia tambahan.
- Struktur serat sangat rapat: Densitas tinggi membuat pori-pori kayu hampir tertutup. Air tidak bisa masuk, sehingga jamur tidak bisa berkembang.
- Kandungan lignin tinggi: Lignin adalah bahan pengikat alami yang membuat kayu keras dan tahan terhadap tekanan mekanis. Kayu ulin punya lignin hampir 30% lebih banyak daripada kayu jati.
Kombinasi ketiganya membuat kayu ulin tidak hanya tahan lama, tapi juga tahan terhadap gempa, angin kencang, dan bahkan api. Kayu ini tidak mudah terbakar. Bahkan dalam uji api, kayu ulin membentuk lapisan arang yang melindungi bagian dalamnya.
Bagaimana cara memilih kayu ulin yang benar?
Jangan hanya beli berdasarkan warna atau harga. Berikut cara memilih kayu ulin Kalimantan asli:
- Cek densitas: Angkat sepotong kayu. Jika terasa sangat berat untuk ukurannya, itu tanda baik. Kayu ulin asli beratnya lebih dari 1,2 kg per liter.
- Periksa warna inti: Warna inti kayu ulin asli hitam kecoklatan, bukan coklat muda. Jika warnanya terlalu terang, itu bisa kayu olahan atau palsu.
- Uji air: Teteskan air ke permukaan kayu. Jika air membentuk tetesan dan tidak meresap dalam 10 menit, itu pertanda kayu padat dan berkualitas.
- Cari sertifikat dari Kementerian Lingkungan Hidup: Pastikan kayu berasal dari hutan yang dikelola secara berkelanjutan. Kayu ulin ilegal tidak hanya merusak lingkungan, tapi juga bisa mengandung bahan kimia berbahaya.
- Perhatikan asal kayu: Jangan percaya klaim "ulim Kalimantan" jika asalnya dari Sulawesi atau Sumatra. Tanyakan lokasi penebangan dan izinnya.
Di mana kayu ulin paling sering digunakan?
Karena ketahanannya, kayu ulin digunakan di proyek-proyek krusial:
- Dermaga dan jembatan: Tahan terhadap air laut dan pasang surut. Di Kalimantan, banyak jembatan kayu yang dibangun tahun 1980-an masih berfungsi sampai sekarang.
- Lantai rumah: Tidak mudah retak atau melengkung meski di daerah lembap. Cocok untuk rumah panggung di daerah rawa.
- Atap dan rangka: Tahan terhadap hujan lebat dan angin kencang. Banyak rumah adat di Kalimantan yang masih berdiri dengan rangka kayu ulin.
- Perahu tradisional: Kayu ini tidak mudah membusuk di air asin. Kapal-kapal nelayan di Sulawesi dan Kalimantan masih memakai kayu ulin untuk bagian bawah badan kapal.
- Patung dan ornamen luar ruangan: Bertahan puluhan tahun tanpa pudar atau retak.
Apakah kayu ulin mahal?
Ya, kayu ulin Kalimantan termasuk salah satu kayu termahal di Indonesia. Harganya berkisar antara Rp 8.000.000 hingga Rp 15.000.000 per meter kubik, tergantung kualitas dan ukuran. Tapi ini bukan harga beli - ini investasi.
Bayangkan Anda membangun dermaga. Jika pakai kayu jati, Anda harus ganti setiap 10-15 tahun. Biaya ganti, tenaga kerja, dan penutupan sementara bisa mencapai 3x harga awal.
Dengan kayu ulin, Anda bayar sekali, dan itu bertahan 50 tahun. Biaya perawatan hampir nol. Dalam jangka panjang, kayu ulin jauh lebih hemat.
Peringatan: Jangan terjebak kayu palsu
Banyak penjual menawarkan kayu "ulim" yang sebenarnya adalah kayu jati atau kayu belian yang diwarnai hitam. Mereka menyebutnya "ulim" agar terdengar seperti kayu ulin.
Cara membedakan:
- Kayu jati berwarna coklat kemerahan, bukan hitam. Jika warnanya hitam, itu cat atau pewarna.
- Kayu belian lebih ringan. Beratnya hanya sekitar 0,8-1,0 g/cm³.
- Kayu ulin asli punya bau khas: sedikit getir, seperti kayu gaharu. Jika baunya seperti bahan kimia, itu pasti diolah.
- Gunakan alat sederhana: gosokkan kuku ke permukaan kayu. Jika ada serbuk hitam yang rontok, itu pewarna. Kayu ulin asli tidak rontok.
Bagaimana cara merawat kayu ulin?
Ini yang paling penting: kayu ulin tidak butuh perawatan. Tapi Anda bisa memperpanjang umurnya dengan beberapa langkah sederhana:
- Jangan cat atau poles: Cat akan menutup pori-pori alami kayu. Kayu ulin butuh bernapas. Jika Anda cat, malah bisa mempercepat kerusakan di bawah lapisan cat.
- Bersihkan debu dan lumut: Gunakan sikat kaku dan air bersih. Jangan pakai tekanan tinggi.
- Periksa sambungan dan baut: Kayu ulin tidak membusuk, tapi baut logam bisa berkarat. Ganti baut stainless steel atau galvanis jika sudah mulai korosi.
- Jangan biarkan genangan air: Meskipun tahan air, genangan jangka panjang bisa menumbuhkan lumut. Lumut bisa membuat permukaan licin dan menyembunyikan retakan kecil.
Itu saja. Tidak ada minyak, tidak ada pelapis, tidak ada bahan kimia. Kayu ulin bekerja sendiri.
Kesimpulan: Kayu ulin kelas awet 1, investasi seumur hidup
Kayu ulin kelas awet 1 bukan sekadar klaim. Ini fakta ilmiah yang sudah terbukti selama ratusan tahun. Ia adalah pilihan terbaik untuk proyek yang ingin bertahan lebih dari satu generasi.
Jika Anda membangun rumah, jembatan, dermaga, atau struktur penting lainnya - pilih kayu ulin Kalimantan asli. Jangan tergoda oleh harga murah atau penjual yang tidak jelas asalnya. Investasi awal memang tinggi, tapi biaya jangka panjangnya hampir nol.
Kayu ulin bukan sekadar bahan bangunan. Ia adalah warisan alam yang bisa Anda gunakan untuk membangun sesuatu yang abadi.
Kayu ulin kelas awet berapa?
Kayu ulin masuk dalam kelas awet 1, artinya tahan lebih dari 25 tahun di luar ruangan tanpa perawatan. Ini adalah kelas tertinggi dalam sistem klasifikasi kayu tahan alam, menjadikannya salah satu kayu paling awet di dunia.
Apa beda kayu ulin Kalimantan dan Sulawesi?
Kayu ulin Kalimantan tumbuh lebih lambat, densitasnya lebih tinggi (1,2-1,3 g/cm³), dan tahan hingga 50 tahun. Kayu ulin Sulawesi tumbuh lebih cepat, densitasnya lebih rendah (0,9-1,0 g/cm³), dan hanya bertahan 10-15 tahun. Perbedaan ini signifikan untuk proyek struktural.
Apakah kayu ulin perlu dicat atau dilapisi?
Tidak perlu. Kayu ulin punya minyak alami yang menjaga keawetannya. Melapisinya dengan cat justru bisa memerangkap kelembapan di bawahnya, yang bisa mempercepat kerusakan. Biarkan kayu ini bernapas.
Bagaimana cara membedakan kayu ulin asli dan palsu?
Periksa beratnya (harus sangat berat), warna inti (hitam kecoklatan, bukan coklat muda), dan uji air (tetesan air tidak meresap dalam 10 menit). Jangan percaya warna hitam dari cat - gosok permukaan dengan kuku, jika rontok, itu pewarna.
Berapa harga kayu ulin Kalimantan per meter kubik?
Harga kayu ulin Kalimantan asli berkisar antara Rp 8.000.000 hingga Rp 15.000.000 per meter kubik, tergantung kualitas, ukuran, dan sertifikat keberlanjutan. Harga ini tinggi, tapi investasi jangka panjangnya jauh lebih hemat dibanding kayu lain yang harus diganti setiap 10 tahun.
shintap yuniati
Kayu ulin kelas 1? Ya ampun, akhirnya ada yang jelasin tanpa ngomongin "ini kayu mahal tapi worth it" terus. Aku pernah beli kayu "ulim" dari pasar, ternyata jati dicat hitam. Beneran, kuku aja bisa ngelupain warnanya. Nyesek banget, udah bayar 5 juta, eh malah jadi bahan bakar kompor.
Wkwk.
Ini beneran kayak ngebeli emas palsu, tapi emasnya buat jembatan.
Wah, jangan-jangan aku yang salah beli, bukan penjualnya yang curang.
Anyway, terima kasih buat penjelasan lengkapnya. Aku jadi nggak gampang tertipu lagi.
Ini bukan cuma kayu, ini seni bertahan hidup di hutan tropis.
Bayangkan, 50 tahun tanpa sentuhan cat? Kayaknya aku bisa warisin ke anak cucu.
Atau malah jadi ikon wisata: "Lihat, ini jembatan tua yang masih berdiri karena nenek moyang kita nggak bodoh."
ika ratnasari
Ini beneran info yang sangat membantu! Aku lagi mau bangun rumah panggung di daerah rawa, dan sempet bingung pilih kayu apa. Sekarang jadi yakin banget pilih ulin Kalimantan.
Walaupun harganya mahal, tapi kalau dilihat dari umur pakainya, jauh lebih hemat.
Aku juga suka banget penjelasan soal cara ngecek aslinya - uji air, berat, warna inti. Aku bakal bawa ini ke tukang kayu besok.
Terima kasih sudah berbagi ilmu tanpa ngajak ribut. Semoga banyak yang baca dan nggak tertipu lagi.
Kayu ini bukan cuma material, tapi kearifan lokal yang patut dilestarikan.
Yuk, dukung kayu lokal yang berkelanjutan!
Ina Shueb
OH MY GOSH. KAYU ULIN KELAS 1?!!
AKU BARU TAU INI ADA YANG SEHEBAT INI!!!
Bayangin, 50 tahun tanpa cat, tanpa pelapis, tanpa nangis pas liat lantai retak. Aku pengen bangun rumahku pake ini, terus nanti aku jadi nenek tua yang masih duduk di bangku kayu yang sama dari tahun 2005.
Ini bukan kayu, ini adalah legenda hidup yang nggak butuh cerita, tapi butuh penghargaan.
Trus, bau getirnya itu? Kayak aroma hutan yang masih bernafas. Aku jadi pengen cium kayunya, bukan cuma beli.
Terus, rayap yang nggak bisa gigit? Mereka mungkin ngomong, "Bro, ini bukan makanan, ini adalah peringatan dari alam."
Yaaah, aku udah jatuh cinta. Aku mau kayu ulin, aku mau warisan, aku mau ketahanan.
Yang jual kayu palsu, kamu tuh kayak orang jual fake Rolex tapi bilang itu "untuk koleksi". Jangan main-main sama alam, guys.
Love this post. 10/10. Aku bakal share ke seluruh grup keluarga. Bahkan ke tante yang suka ngejual "kayu jati mahal" padahal cuma kayu karet dicat.
🌿🪵🫶
Syam Pannala
Menarik banget nih penjelasannya. Aku sendiri pernah kerja di proyek dermaga di Pontianak, dan semua tiangnya pake ulin Kalimantan. Nggak salah pilih.
Yang bikin aku kagum, meskipun harganya tinggi, tapi tukang kayu lokal nggak pernah ngeles kalau disuruh pakai alternatif.
Kenapa? Karena mereka tau, kalau salah pilih, mereka yang nanggung akibatnya nanti.
Ini soal profesionalitas, bukan soal harga.
Yang penting juga, jangan lupa sertifikatnya. Kayu ilegal itu nggak cuma merusak hutan, tapi juga bikin kita jadi bagian dari sistem yang salah.
Terus, soal perawatan - bener banget, jangan dicat. Biarkan dia jadi dirinya sendiri.
Ini kayak orang tua, nggak perlu dihias, cukup dihargai.
Terima kasih udah ngasih data lengkap. Aku bakal share ke tim konstruksi aku.
Hery Setiyono
Ini postingan terlalu panjang. Bisa dipersingkat jadi satu kalimat: Kayu ulin kelas 1, mahal, tahan lama, jangan beli yang palsu.
Ngapain ngomongin densitas, lignin, extractive content? Itu buat ilmuwan, bukan buat orang yang mau bangun rumah.
Yang penting: harga, ketersediaan, dan jangan sampai ketipu.
Ini bukan diskusi ilmiah, ini bahan bangunan.
Terima kasih, tapi aku lebih suka yang simpel.
Ulin = mahal. Jati = murah. Pilih salah satu. Selesai.
Made Suwaniati
Ulin kelas 1 emang juara. Aku pake buat lantai rumah sejak 2012. Belum retak, belum berjamur. Cuma dibersihin pakai sikat dan air tiap bulan.
Nggak pernah dicat. Ngga pake minyak. Nggak pernah ganti.
Harganya emang tinggi, tapi kalau udah pasang, kamu nggak bakal mikir lagi.
Yang penting, cari yang asli. Jangan percaya warna hitam. Cek beratnya. Kalau ringan, itu bukan ulin.
Ini bukan barang mewah. Ini kebutuhan.
Yakinlah, kamu bakal bersyukur 20 tahun dari sekarang.
Simple. Tapi benar.
Suilein Mock
Perlu dicatat bahwa sistem klasifikasi kelas awet kayu sebagaimana disebutkan dalam artikel ini merujuk pada standar SNI 01-7207-2005, yang secara eksplisit membatasi kelas awet 1 sebagai material dengan ketahanan biodegradasi lebih dari 25 tahun dalam kondisi ekspose alamiah tanpa perlakuan kimia.
Perlu diingat pula bahwa densitas 1,2-1,3 g/cm³ hanya berlaku untuk kayu ulin (Eusideroxylon zwageri) yang berasal dari hutan primer Kalimantan, bukan populasi sekunder atau hasil silvikultur.
Adapun klaim bahwa rayap tidak mampu menggigit kayu ini dalam 6 bulan telah dibuktikan dalam penelitian oleh Balai Penelitian Kehutanan Bogor (2017), dengan kontrol menggunakan sampel jati (Tectona grandis) sebagai pembanding.
Penyebutan "kayu gaharu" sebagai sejawat kelas awet 1 merupakan kesalahan klasifikasi: gaharu (Aquilaria spp.) tidak termasuk dalam kategori kayu struktural karena kekerasan dan densitasnya yang rendah.
Sehingga, pernyataan bahwa "kayu ulin bersama kayu gaharu masuk kelas 1" adalah tidak akurat secara ilmiah dan berpotensi menyesatkan.
Karena itu, sebagai pembaca yang kritis, saya menyarankan agar informasi ini direvisi sebelum disebarkan lebih luas.
Ilmu harus akurat, bukan sekadar menarik.
Bagus Budi Santoso
Ulin kelas 1 ya? Wah gue baru tau nih
Trus densitasnya 1,2-1,3? Itu berat banget ya
Uji air? Iya bener gue pernah coba, airnya ngelempar kayak kelereng
Rayap nggak bisa gigit? Beneran? Aku takut banget sama rayap
Terus jangan dicat? Aku dulu malah cat semua biar rapi
Wah ternyata salah besar
Ulin asli itu hitam kecoklatan, bukan hitam polos
Yang jual kayu palsu tuh harus dihukum
Ini bukan cuma kayu ini ini warisan
Wah aku jadi pengen beli sekarang
Wkwk
Dimas Fn
Baru denger soal kayu ulin kelas 1. Aku kira semua kayu sama aja. Ternyata beda banget.
Yang penting, ini bisa tahan lama dan nggak butuh perawatan. Aku suka banget ide itu.
Kalau bisa, aku pengen pake ini buat teras rumah.
Walaupun harganya mahal, tapi kalau nggak perlu ganti, ya worth it.
Yang penting jangan beli yang palsu. Aku juga pernah ketipu, jadi ngerti banget.
Terima kasih udah bagi info. Aku jadi lebih paham.
Kayu ini keren banget. Semoga makin banyak yang pake.
Handoko Ahmad
Ulin kelas 1? Lah masa sih? Aku pernah liat di pasar, kayu itu cuma kayu belian yang diwarnain. Semua orang bilang ulin, padahal bukan.
Ini semua cuma marketing. Kayu mahal = keren. Kayu murah = jelek.
Ulin juga bisa mati kalau salah pasang. Jangan percaya klaim "50 tahun". Itu cuma angka di brosur.
Di daerahku, jembatan kayu udah roboh tahun 2020. Tapi katanya pake ulin. Ya kan?
Yang penting jangan percaya sama orang yang bilang "ini warisan alam". Ini cuma kayu. Bukan dewa.
Ulin itu mahal, tapi nggak lebih baik dari baja. Baja bisa diukur. Kayu? Bisa aja kena air hujan, lalu bengkok.
Ini semua hiperbola. Coba bandingin sama komposit. Lebih stabil.
Yang percaya ini, ya tinggal percaya. Aku tetap pake baja.
Asril Amirullah
WOW. Ini beneran inspirasi banget. Aku baru aja selesai bangun rumah, dan aku pake kayu jati karena dibilang "aman". Sekarang aku nyesek.
Ini kayak nemu jalan keluar setelah nyasar selama 10 tahun.
Kayu ulin itu bukan cuma material, ini adalah bentuk cinta sama alam.
Bayangkan, kamu bangun sesuatu yang bakal berdiri buat anak cucumu. Itu nggak bisa dibeli dengan uang. Itu warisan.
Yang penting, jangan takut investasi awal. Yang penting hasilnya abadi.
Aku bakal beli kayu ulin buat teras belakang. Dan aku bakal kasih tahu semua temenku.
Kamu nggak perlu jadi arsitek buat ngerti ini. Cukup jadi orang yang peduli.
Terima kasih. Ini beneran bikin aku bersemangat lagi buat bangun sesuatu yang bermakna.
🪵❤️
Isaac Suydam
Kayu ulin kelas 1? Ya ampun, ini semua cuma omong kosong. Aku kerja di proyek jembatan, dan semua kayu yang diklaim ulin itu pada akhirnya rusak dalam 8 tahun.
Yang bilang tahan 50 tahun itu orang yang belum pernah liat kebocoran atau banjir.
Rayap nggak gigit? Coba cek di Kalimantan Timur, tahun 2023, ada 3 dermaga rusak karena ulin yang diklaim "asli".
Ini semua propaganda dari pedagang kayu yang mau jual mahal.
Ulin itu mahal, tapi nggak lebih baik dari kayu olahan atau komposit modern.
Kamu cuma dibuat percaya bahwa "tradisi = lebih baik".
Padahal teknologi sekarang bisa lebih tahan, lebih murah, lebih ramah lingkungan.
Ini cuma nostalgia berbaju ilmiah.
Stop percaya mitos. Beli yang terbukti.
Alifvia zahwa Widyasari
Anda salah. Kayu ulin tidak termasuk kelas awet 1 menurut SNI 01-7207:2005. Kelas awet 1 diberikan hanya untuk kayu yang uji laboratoriumnya menunjukkan kerusakan maksimal 10% setelah 25 tahun. Ulin Kalimantan memiliki rata-rata kerusakan 8%, tetapi itu hanya pada sampel yang diambil dari hutan primer. Sampel dari hutan sekunder atau plantasi tidak memenuhi kriteria.
Penyebutan "kayu gaharu" sebagai kelas 1 adalah kesalahan fatal. Gaharu adalah kayu resin, bukan struktural. Densitasnya 0,6-0,7 g/cm³. Anda tidak bisa membandingkan dengan ulin.
Anda juga tidak menyebutkan bahwa kayu ulin ilegal dilarang ekspor sejak 2018 berdasarkan CITES Appendix II.
Ini postingan berbahaya. Bisa membuat orang salah beli dan merusak ekosistem.
Saya menyarankan Anda merevisi atau menghapusnya.
Ini bukan opini. Ini fakta ilmiah.
Anda tidak boleh menyebarkan informasi yang tidak akurat, terutama tentang bahan bangunan.
Riyan Ferdiyanto
Ulin kelas 1? Ya iyalah. Tapi lo tau nggak, banyak yang jual ulin tapi sebenernya kayu jati yang diwarnain pake cat minyak. Aku pernah liat sendiri di pasar kayu Palangkaraya. Nggak ada yang cek densitas. Semua percaya sama warna hitam.
Yang penting jangan beli yang murah. Itu pasti palsu.
Ulin asli itu berat banget, kayak angkat batu. Bau getir, bukan bau kimia.
Yang paling penting: jangan dicat. Biarkan dia jadi hitam alami. Itu justru bagus.
Ini bukan soal harga. Ini soal jujur. Kalau lo mau bangun sesuatu yang tahan lama, lo harus jujur sama diri lo sendiri.
Lo bisa beli yang murah, tapi lo bakal nangis 10 tahun lagi.
Ulin itu bukan kayu. Ini keputusan.
Lo pilih mana? Murah sekarang? Atau tahan 50 tahun?
Dicky Agustiady
Menarik. Aku baru tahu soal perbedaan ulin Kalimantan dan Sulawesi. Aku sempat beli kayu dari Sulawesi karena lebih murah. Sekarang aku sadar itu kesalahan.
Yang bikin aku penasaran, kenapa densitasnya bisa beda jauh? Apa karena tanah atau curah hujan?
Terus, soal minyak alami itu - apakah itu bisa diukur? Atau cuma dari pengalaman tukang?
Aku suka cara kamu jelasin tanpa terlalu teknis. Tapi aku pengen tahu lebih dalam.
Apakah ada penelitian yang membandingkan umur ulin di daerah pesisir vs pedalaman?
Aku juga pengen tahu, apakah ada upaya konservasi untuk tanaman ulin? Karena kalau semua orang pake, nanti habis.
Terima kasih. Ini bikin aku mikir lebih dalam.
shintap yuniati
Wah, ada yang bilang ulin itu mitos? Hahaha. Coba kamu liat jembatan di Banjarmasin yang dibangun 1978. Masih berdiri. Tidak ada satu pun tiang yang diganti. Itu bukan mitos, itu fakta hidup.
Yang bilang baja lebih baik - coba kamu lihat biaya perawatan baja di lingkungan asin. Karat itu nggak peduli kamu pake cat anti karat apa. Ia akan makan perlahan.
Ulin itu kayak kura-kura. Lambat, tapi nggak mati.
Yang bilang "ini cuma marketing" - kamu pernah liat kayu yang bisa bertahan 50 tahun tanpa sentuhan apa-apa? Bukan cuma di Indonesia, tapi di dunia?
Kalau kamu nggak percaya, datang ke Kalimantan. Lihat sendiri. Jangan cuma ngeyel dari kamar kamu.
Ini bukan soal tradisi. Ini soal sains. Dan sains bilang: ulin itu juara.
Tulis komentar