Kayu ulin bukan sekadar kayu biasa. Di Kalimantan, kayu ini sudah jadi andalan sejak puluhan tahun lalu, bukan karena warnanya yang gelap atau teksturnya yang mengkilap, tapi karena ketahanannya yang luar biasa. Kalau kamu pernah lihat jembatan tua di Sungai Mahakam, tangga pelabuhan di Samarinda, atau rumah panggung di tepi sungai yang masih berdiri tegak meski sudah 30 tahun, kemungkinan besar itu dibuat dari kayu ulin. Ini bukan mitos. Ini fakta hidup di lapangan.
Kayu Ulin untuk Konstruksi Bangunan
Kayu ulin paling banyak dipakai di dunia konstruksi. Kenapa? Karena dia tahan terhadap serangan serangga, jamur, dan air. Di daerah rawa atau dekat sungai, kayu biasa bisa rusak dalam 2-3 tahun. Tapi kayu ulin? Bisa bertahan 50 tahun lebih tanpa perawatan khusus. Di proyek jembatan gantung di Kutai Kartanegara, kayu ulin dipakai sebagai tiang utama. Bahkan setelah banjir besar tahun 2021, strukturnya masih utuh. Tidak ada yang diganti. Hanya dibersihkan.
Di rumah-rumah tradisional Kalimantan, kayu ulin jadi pilihan utama untuk tiang penyangga. Bukan karena mahal, tapi karena tidak ada alternatif yang lebih tahan lama. Kayu jati, misalnya, bisa lapuk jika terkena kelembapan terus-menerus. Kayu ulin tidak. Dia punya densitas tinggi-sekitar 1,2 g/cm³-lebih berat dari air. Artinya, dia tenggelam jika dimasukkan ke dalam air. Itu indikator kuat ketahanannya.
Kayu Ulin untuk Tangga, Lantai, dan Decking
Banyak rumah modern di Kalimantan dan Sulawesi yang pakai kayu ulin untuk lantai dan decking. Di rumah saya di Samarinda, lantai ruang tamu pakai kayu ulin. Sudah 12 tahun, tidak ada retak, tidak ada jamur, dan tidak pernah diampelas ulang. Hanya dibersihkan dengan sapu dan sedikit air. Ini jauh lebih hemat daripada lantai kayu impor yang harus di-finishing tiap 2 tahun.
Tangga dari kayu ulin juga jadi pilihan utama di gedung-gedung publik. Di Kantor Bupati Paser, tangga utama terbuat dari kayu ulin. Setiap hari dilewati ratusan orang, tapi tidak ada yang melaporkan licin atau rusak. Kayu ini punya daya cengkeram alami, bahkan saat basah. Ini penting banget di daerah beriklim tropis dengan hujan lebat.
Kayu Ulin untuk Jembatan dan Dermaga
Di Kalimantan Timur dan Selatan, jembatan kayu masih banyak digunakan karena biaya lebih rendah dibanding beton. Dan hampir semua jembatan kayu itu pakai kayu ulin. Di desa-desa sepanjang Sungai Barito, jembatan kayu ulin bisa bertahan 40-50 tahun tanpa diganti. Ini karena kayu ulin tidak membusuk meski terendam air tawar berbulan-bulan.
Dermaga pelabuhan kecil di Tanjung Redeb juga pakai kayu ulin. Tiang-tiangnya terendam air laut setiap pasang. Kayu biasa akan hancur dalam 5 tahun karena serang laut (teredo). Tapi kayu ulin? Tidak ada yang bisa menembusnya. Ini karena kandungan minyak alaminya yang tinggi-sekitar 8-12%-yang berfungsi sebagai pelindung alami terhadap organisme laut.
Kayu Ulin untuk Kapal dan Perahu
Di Kalimantan, perahu tradisional yang disebut perahu klotok atau perahu tempel masih dibuat dari kayu ulin. Ini bukan karena tradisi semata, tapi karena fungsionalitas. Perahu dari kayu ulin bisa bertahan 20-30 tahun, bahkan jika sering terbentur batu atau terkena sinar matahari langsung. Kayu lain seperti meranti atau kempas akan pecah dalam 5 tahun.
Di beberapa bengkel perahu di Balikpapan, kayu ulin dipakai untuk bagian yang paling sering terkena air: lunas, tiang kemudi, dan papan sisi. Mereka tidak pakai cat atau pelapis. Cukup dikeringkan dan dipasang. Tahun-tahun berlalu, perahu itu tetap mengapung. Ini bukan keajaiban. Ini sifat alami kayu ulin.
Kayu Ulin untuk Pagar dan Pilar Penyangga
Pagar dari kayu ulin? Bukan hanya untuk estetika. Di kawasan perkebunan sawit di Kutai Barat, pagar pembatas lahan sering dibuat dari kayu ulin. Bukan karena indah, tapi karena tidak ada yang bisa merusaknya. Rayap? Tidak tertarik. Hujan? Tidak lapuk. Panas? Tidak retak. Pagar ini bisa bertahan 30 tahun tanpa diganti. Bandingkan dengan pagar besi yang cepat berkarat atau pagar kayu biasa yang rusak dalam 3 tahun.
Pilar penyangga rumah panggung juga banyak yang pakai kayu ulin. Di daerah banjir seperti Sangatta, rumah-rumah dibangun di atas tiang tinggi. Tiang itu harus tahan air dan beban. Kayu ulin adalah satu-satunya yang memenuhi syarat itu. Tidak ada yang pakai beton karena biayanya terlalu tinggi. Dan tidak ada yang pakai kayu lain karena tidak tahan lama.
Kayu Ulin untuk Furniture dan Interior
Kayu ulin juga banyak dipakai untuk mebel, terutama yang butuh ketahanan tinggi. Meja makan, kursi taman, atau rak buku dari kayu ulin tidak perlu di-cat. Warnanya alami-hitam kecoklatan-dan mengkilap alami karena minyaknya. Bahkan setelah 15 tahun, tidak perlu di-sanding lagi. Cukup dibersihkan dengan kain basah.
Di toko furnitur di Balikpapan, banyak yang jual kursi taman dari kayu ulin. Harganya memang lebih mahal daripada kayu jati, tapi pelanggan tahu: ini investasi jangka panjang. Satu kursi bisa dipakai seumur hidup. Tidak perlu ganti. Tidak perlu repot-repot cat ulang. Ini yang membuatnya tetap laris, meski harganya 2-3 kali lipat dari kayu biasa.
Kayu Ulin untuk Proyek Konservasi dan Restorasi
Kayu ulin juga jadi pilihan utama dalam restorasi bangunan bersejarah. Di kompleks rumah adat Dayak di Long Ikis, bangunan tua yang rusak karena usia direnovasi dengan kayu ulin. Semua bagian yang lapuk diganti dengan kayu ulin yang sama. Bukan karena ingin terlihat baru, tapi karena tidak ada alternatif yang bisa menyamai ketahanan aslinya.
Bahkan di museum-museum di Jakarta, beberapa artefak kayu dari Kalimantan yang dipajang aslinya terbuat dari kayu ulin. Mereka tidak perlu diawetkan dengan bahan kimia. Cukup dijaga kelembapannya. Itu karena kayu ulin sudah punya sistem alami untuk bertahan.
Kenapa Kayu Ulin Mahal? Apa Bedanya dengan Kayu Lain?
Kayu ulin mahal bukan karena langka-meskipun memang terbatas. Tapi karena proses pengolahannya rumit. Kayu ini sangat keras. Untuk menggergaji, butuh mata gergaji khusus. Untuk mengebor, butuh bor kuat dan mata bor khusus. Tidak semua tukang bisa kerja dengan kayu ini. Dan karena beratnya, biaya transportasi juga lebih tinggi.
Bandingkan dengan kayu meranti. Kayu meranti lebih ringan, lebih mudah dipotong, dan harganya lebih murah. Tapi dia tidak tahan air. Dalam 3 tahun, dia bisa mulai melengkung, berjamur, atau dimakan rayap. Kayu ulin? Tidak. Dia tidak peduli dengan cuaca, air, atau serangga. Itu sebabnya, di Kalimantan, orang bilang: "Kayu ulin, kalau sudah dipasang, jangan pernah diganti."
Kesimpulan: Kayu Ulin Bukan Sekadar Kayu, Tapi Investasi
Kayu ulin bukan untuk semua orang. Tapi untuk yang butuh ketahanan jangka panjang, ini pilihan paling masuk akal. Kalau kamu membangun jembatan, dermaga, rumah di rawa, atau lantai yang akan dilewati ratusan orang setiap hari-pilih kayu ulin. Kamu tidak akan menyesal. Bukan karena dia "mewah", tapi karena dia tidak pernah gagal.
Di Kalimantan, orang tidak membeli kayu ulin untuk tampilan. Mereka membelinya karena mereka tahu: ini satu-satunya kayu yang akan tetap berdiri ketika yang lain sudah hancur.
Apakah kayu ulin tahan terhadap rayap?
Ya, kayu ulin sangat tahan terhadap rayap. Karena kepadatan tinggi dan kandungan minyak alami yang tinggi, rayap tidak bisa memakan kayu ini. Ini sudah terbukti di ribuan proyek di Kalimantan, dari rumah panggung hingga jembatan, yang bertahan puluhan tahun tanpa serangan rayap.
Berapa lama umur kayu ulin jika dipakai untuk lantai?
Lantai dari kayu ulin bisa bertahan 50-70 tahun tanpa perlu diganti, bahkan di daerah lembap seperti Kalimantan. Beberapa lantai kayu ulin di rumah-rumah tua di Samarinda sudah berusia lebih dari 40 tahun dan masih dalam kondisi baik. Tidak perlu diampelas ulang atau di-cat.
Apakah kayu ulin cocok untuk lingkungan laut?
Iya, kayu ulin sangat cocok untuk lingkungan laut. Kandungan minyak alaminya mencegah serangan teredo (serang laut) yang biasanya merusak kayu di dermaga atau kapal. Di dermaga Tanjung Perak dan Balikpapan, banyak tiang dermaga yang terbuat dari kayu ulin dan masih berdiri kuat setelah 30 tahun terendam air laut.
Mengapa kayu ulin lebih mahal daripada kayu jati?
Kayu ulin lebih mahal karena proses penebangan dan pengolahannya lebih sulit. Kayunya sangat keras, sehingga membutuhkan alat khusus untuk dipotong dan dibor. Beratnya juga 30% lebih berat dari jati, sehingga biaya angkut lebih tinggi. Tapi harganya sepadan karena umur pakainya 2-3 kali lebih lama.
Apakah kayu ulin ramah lingkungan?
Kayu ulin berasal dari hutan alam Kalimantan, dan penebangan harus dilakukan secara berkelanjutan. Jika dipanen dengan izin dan sesuai aturan, kayu ini bisa jadi pilihan ramah lingkungan karena tidak perlu diganti dalam waktu lama. Ini mengurangi kebutuhan penebangan ulang. Tapi jika dipanen secara ilegal, maka bisa merusak ekosistem.
Syam Pannala
Kayu ulin itu beneran juara di Kalimantan. Aku pernah lihat jembatan tua di Mahakam yang masih kuat meski udah 40 tahun. Nggak pernah dicat, nggak pernah dirawat, tapi tetep kokoh. Ini bukan kayu biasa, ini warisan alam yang harus dihargai.
Banyak orang ngira mahal itu rugi, tapi pasang kayu ulin sekali, seumur hidup nggak perlu ganti. Hemat jangka panjang banget.
Yang penting, jangan sampai penebangannya ilegal. Kita harus jaga sumbernya biar anak cucu kita juga bisa nikmatin.
Hery Setiyono
Ini artikelnya panjang banget. Tapi sebenernya cuma bilang kayu ulin kuat. Semua kayu keras itu kuat. Cuma kamu yang ngegandrungin kayu lokal. Kayu impor juga ada yang bagus, kok.
Made Suwaniati
Di rumahku di Pontianak, lantai kayu ulin udah 15 tahun. Nggak retak, nggak berjamur. Cuma dibersihin pake sapu dan air. Nggak pernah diampelas. Ini investasi yang beneran worth it.
Tulis komentar