Kayu bengkirai sering jadi pilihan utama saat membangun rumah, jembatan, atau teras. Tapi apakah benar-benar yang terbaik? Banyak orang menganggap kayu bengkirai adalah raja kayu keras, tapi sebenarnya ada beberapa jenis kayu lain yang tak kalah tangguh-dan mungkin lebih cocok untuk kebutuhanmu. Kalau kamu sedang memilih kayu untuk proyek serius, kamu perlu tahu perbedaan sebenarnya, bukan hanya nama yang sering dipromosikan.
Apa yang membuat kayu berkualitas tinggi?
Kayu berkualitas tinggi bukan cuma soal warna atau harga. Ini soal ketahanan, kepadatan, dan stabilitas. Kayu yang bagus harus tahan terhadap rayap, jamur, retak, dan perubahan cuaca. Di Indonesia, yang paling dicari adalah kayu dengan kelas awet I atau II, sesuai standar SNI 01-7207-2005. Kelas ini bukan label marketing-ini hasil uji laboratorium yang menunjukkan berapa lama kayu bisa bertahan di tanah terbuka tanpa pengawet kimia.
Kayu bengkirai punya kelas awet I. Artinya, bisa bertahan lebih dari 25 tahun di kondisi ekstrem. Tapi itu bukan satu-satunya yang punya nilai itu. Ulin, jati, dan merbau juga masuk kategori ini. Yang membedakan bukan cuma kelas awet, tapi juga kepadatan, kekerasan, dan cara pengolahan setelah tebang.
Kayu bengkirai: kelebihan dan kekurangannya
Kayu bengkirai berasal dari Kalimantan. Warnanya kuning kecoklatan, seratnya lurus, dan permukaannya halus setelah dipoles. Ini membuatnya populer untuk lantai, teras, dan konstruksi outdoor. Daya tahan terhadap rayap sangat baik-bahkan lebih baik daripada jati muda. Tapi ada masalahnya.
Pertama, kayu bengkirai sangat berat. Berat jenisnya sekitar 0,85-0,95. Artinya, butuh tenaga ekstra untuk mengangkut dan memasang. Kedua, saat baru ditebang, kayu ini mudah retak jika tidak dikeringkan dengan benar. Banyak pembangun yang kecewa karena kayu yang mereka beli jadi bengkok setelah dipasang. Ini bukan salah kayunya, tapi salah proses pengeringan.
Ketiga, harga bengkirai naik terus. Di Samarinda, harga per kubik (m³) untuk bengkirai kelas I berkisar antara Rp12 juta-Rp15 juta, tergantung musim dan kualitas. Itu lebih mahal dari merbau, tapi lebih murah dari ulin. Tapi kalau kamu butuh kayu yang awet dan mudah diolah, bengkirai tetap pilihan solid-asal kamu beli dari supplier yang jujur dan punya sertifikat.
Alternatif kayu berkualitas tinggi: ulin, merbau, dan jati
Ulin, atau yang sering disebut kalimantan ironwood, adalah juara sejati. Berat jenisnya bisa mencapai 1,1-1,3, jauh lebih berat dari bengkirai. Tahan terhadap air laut, serangga, dan tekanan tinggi. Ini kayu yang dipakai untuk tiang jembatan di sungai-sungai besar, dermaga, dan konstruksi pelabuhan. Tapi ulin sangat sulit dipotong dan diolah. Butuh alat khusus, dan harganya bisa dua kali lipat bengkirai.
Merbau, dari Sulawesi, punya kelas awet I juga. Warnanya coklat keunguan, teksturnya lebih halus, dan lebih stabil daripada bengkirai. Merbau lebih sedikit retak saat kering, dan lebih mudah diolah. Harganya sekitar Rp10 juta-Rp13 juta per m³. Ini pilihan bagus jika kamu ingin kayu yang kuat tapi tidak terlalu berat dan mahal.
Jati? Ya, jati juga masuk daftar. Tapi jati yang benar-benar berkualitas tinggi hanya berasal dari hutan alami tua, bukan plantation. Kayu jati plantation sering rapuh dan mudah diserang jamur. Jati alami bisa bertahan lebih dari 50 tahun, tapi harganya sangat tinggi-Rp18 juta ke atas per m³. Untuk kebanyakan proyek rumah, jati alami terlalu berlebihan.
Tabel perbandingan kayu berkualitas tinggi
| Kayu | Kelas Awet | Berat Jenis | Harga per m³ (2025) | Kelebihan | Kekurangan |
|---|---|---|---|---|---|
| Bengkirai | I | 0,85-0,95 | Rp12-15 juta | Tahan rayap, mudah diolah, warna cerah | Mudah retak jika tidak dikeringkan, berat |
| Ulin | I | 1,1-1,3 | Rp20-28 juta | Paling tahan lama, anti air laut, sangat keras | Sangat berat, sulit dipotong, mahal |
| Merbau | I | 0,80-0,90 | Rp10-13 juta | Stabil, warna indah, lebih ringan dari bengkirai | Warna bisa pudar jika terkena sinar matahari langsung |
| Jati alami | I | 0,65-0,75 | Rp18-30 juta | Awet puluhan tahun, aromatik, tahan cuaca | Harga sangat tinggi, sulit dicari asli, plantation tidak sebaik alami |
Kapan harus memilih bengkirai?
Jika kamu membangun teras rumah, pagar, atau lantai outdoor di daerah tropis, bengkirai adalah pilihan yang seimbang. Ia tidak sekuat ulin, tapi jauh lebih mudah dipakai. Jika kamu ingin tampilan terang, permukaan halus, dan harga yang masuk akal, bengkirai menang.
Tapi jangan beli bengkirai dari pedagang yang tidak bisa menunjukkan sertifikat dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Banyak kayu palsu yang dijual sebagai bengkirai-padahal itu kayu karet atau kayu keling. Ciri aslinya: seratnya rapat, beratnya terasa padat saat diangkat, dan warnanya tidak terlalu merah. Kalau terlalu kuning terang, bisa jadi sudah diwarnai.
Bagaimana memilih kayu yang benar-benar berkualitas?
Ini tips praktis yang sering diabaikan:
- Periksa kadar air-Kayu yang bagus punya kadar air di bawah 15%. Gunakan alat moisture meter. Jika tidak punya, tekan dengan kuku-kalau meninggalkan jejak, itu masih basah.
- Perhatikan asal kayu-Bengkirai dari Kalimantan Timur lebih baik daripada dari Kalimantan Tengah. Ulin dari Kutai lebih padat daripada dari Pulau Laut.
- Gunakan kayu yang sudah dikeringkan alami-Keringkan selama 6-12 bulan di tempat teduh dan berventilasi. Jangan percaya kayu yang dikeringkan pakai oven dalam 3 hari-itu bisa retak nanti.
- Belilah dari supplier yang bisa memberi surat jalan dan asal-usul kayu-Ini penting untuk keberlanjutan dan legalitas.
Apakah ada kayu sintetis yang lebih baik?
Kayu komposit atau WPC (Wood Plastic Composite) semakin populer. Tapi ini bukan kayu asli. Ia terbuat dari serbuk kayu dan plastik. Tahan rayap, tidak perlu dicat, dan tidak retak. Tapi tidak punya kehangatan kayu asli. Juga tidak bisa dikerjakan dengan alat kayu biasa. Harganya sekitar Rp15 juta-Rp25 juta per m³, tergantung merek.
Jika kamu ingin tampilan alami, daya tahan tinggi, dan bisa diperbaiki dengan paku dan gergaji, maka kayu asli tetap pilihan terbaik. Kayu sintetis cocok untuk area yang sangat lembap-seperti kolam renang-tapi tidak untuk struktur utama rumah.
Kesimpulan: kayu terbaik itu yang sesuai kebutuhanmu
Tidak ada satu jenis kayu yang paling baik untuk semua orang. Bengkirai adalah pilihan yang sangat baik untuk kebanyakan proyek rumah di Indonesia. Tapi jika kamu butuh kekuatan ekstrem, ulin adalah jawabannya. Jika kamu ingin keseimbangan antara harga, keindahan, dan stabilitas, merbau bisa jadi pilihan lebih cerdas.
Yang paling penting: jangan tergoda oleh harga murah atau nama besar. Periksa kualitasnya. Tanya sertifikat. Uji kepadatan. Tanya asalnya. Kayu yang benar-benar berkualitas tinggi tidak hanya bertahan lama-tapi juga memberi rasa aman dan kebanggaan saat kamu menatapnya setiap hari.
Kayu bengkirai tahan berapa lama?
Kayu bengkirai dengan kelas awet I bisa bertahan lebih dari 25 tahun di kondisi outdoor tanpa pengawet kimia, asalkan dikeringkan dengan benar dan tidak terendam air terus-menerus. Di area yang kering dan terlindung, seperti teras atau lantai, umurnya bisa mencapai 30-40 tahun.
Apakah kayu bengkirai lebih baik dari jati?
Untuk konstruksi outdoor, bengkirai lebih unggul karena lebih tahan terhadap rayap dan kelembapan. Jati alami lebih indah dan aromatik, tapi harganya jauh lebih mahal dan sulit didapat. Jati plantation tidak sekuat bengkirai. Jadi, untuk fungsi struktural, bengkirai lebih praktis dan ekonomis.
Kenapa kayu bengkirai retak setelah dipasang?
Ini karena kayu belum dikeringkan cukup lama. Kayu bengkirai yang baru ditebang punya kadar air tinggi. Jika langsung dipakai tanpa proses pengeringan alami selama 6-12 bulan, air di dalam serat akan menguap setelah dipasang-dan menyebabkan retak atau bengkok. Solusinya: beli kayu yang sudah dikeringkan, atau minta supplier untuk mengeringkannya terlebih dahulu.
Di mana bisa dapatkan bengkirai asli di Kalimantan?
Di Samarinda dan Kutai Kartanegara, ada beberapa supplier resmi yang bekerja sama dengan Perhutani dan KLHK. Cari yang bisa menunjukkan surat jalan dan sertifikat asal kayu. Hindari pedagang pinggir jalan yang tidak bisa memberi dokumen. Kayu bengkirai asli biasanya berat, berwarna kuning kecoklatan, dan seratnya padat.
Apakah merbau lebih murah dari bengkirai?
Ya, merbau biasanya lebih murah Rp1-2 juta per m³ dibanding bengkirai. Tapi harganya bisa naik jika permintaan tinggi, terutama dari luar Kalimantan. Secara kualitas, merbau lebih stabil dan lebih mudah diolah, jadi banyak yang menganggapnya lebih bernilai meskipun harganya sedikit lebih rendah.
Dimas Fn
Baru aja selesai bangun teras pake bengkirai, dan alhamdulillah nggak retak sama sekali. Yang penting jangan beli yang baru tebang, cari yang udah dikeringin minimal 8 bulan. Gue beli dari supplier di Samarinda, mereka kasih sertifikat juga. Gampang banget dipasang, warnanya juga cantik pas matahari sore.
Alifvia zahwa Widyasari
Salah kaprah besar kalau bilang bengkirai lebih tahan rayap daripada jati. Jati alami itu punya senyawa natural yang bahkan membuat rayap nggak mau mendekat. Kalau kamu beli jati plantation, ya memang lemah. Tapi itu bukan salah jatinya, itu salah pembeli yang gak tahu beda jati alami sama palsu. Jangan sampe kamu ngomong kayak gitu lagi.
Handoko Ahmad
Ulin itu keren sih, tapi mahal banget sampe kayak beli mobil second. 😅 Gue pilih merbau aja, harga pas, nggak bikin dompet nangis. Tapi jangan lupa, jangan beli yang warnanya keunguan terang, itu udah diwarnai! 😎
Hari Yustiawan
Nih, gue kasih tips dari pengalaman 15 tahun kerja di dunia kayu: jangan pernah percaya supplier yang bilang ‘kayu ini sudah dikeringkan oven’ kalau harganya murah. Oven itu cuma buat ngilangin air permukaan, bukan ngeluarin air dalam serat. Kayu yang beneran kering itu butuh waktu, udara, dan kesabaran. Kalau kamu mau hemat, beli kayu yang udah kering alami, meskipun harganya sedikit lebih mahal, tapi kamu bakal hemat biaya reparasi 5 tahun ke depan. Percaya deh, gue udah liat ratusan proyek yang gagal cuma karena ngejar harga murah. Kayu itu bukan barang sekali pakai, itu investasi untuk rumahmu. Jangan sampe rumahmu jadi ‘rumah retak’ karena kamu malas ngecek.
Isaac Suydam
Ini artikelnya cuma jualan bengkirai dengan gaya ilmiah. Semua kayu lokal itu sama-sama tahan, cuma beda harga sama cara jualnya. Ulin? Mahal. Jati? Langka. Merbau? Banyak yang palsu. Bengkirai? Paling gampang dicari dan paling gampang ditipu. Jadi ya... semua sama aja. Mending pake WPC aja, lebih stabil, nggak perlu dirawat, dan nggak bikin kamu stres cari supplier jujur.
Bagus Budi Santoso
Perlu diingat, kelas awet I itu bukan jaminan kayu nggak retak. Retak itu soal kelembaban, bukan soal kelas. Aku pernah pasang bengkirai di rumah temen, dua minggu setelah dipasang, langsung retak di sudut. Ternyata supplier pake kayu yang dikeringin di bawah teras, bukan di gudang ventilasi. Jadi jangan cuma lihat label, lihat juga prosesnya. Dan jangan lupa, pakai kuku buat tes kelembaban, itu lebih akurat daripada alat mahal yang nggak kamu pahami cara pakainya.
Riyan Ferdiyanto
WPC emang gampang, tapi kayak plastik yang dicampur serbuk kayu. Nggak ada rasa kayu asli. Aku lebih suka bengkirai yang dikeringin alami, meskipun butuh waktu. Nggak usah buru-buru. Rumah itu bukan proyek cepat, tapi warisan. Dan kalau kamu pake kayu yang beneran, kamu bisa ngerasain aroma dan teksturnya tiap hari. Itu yang nggak bisa diwakili oleh plastik.
Asril Amirullah
Kalian semua udah ngomongin yang bagus-bagus, tapi jangan lupa yang paling penting: jangan pernah beli kayu dari pedagang yang nggak bisa kasih surat jalan. Itu bukan cuma soal kualitas, tapi soal keberlanjutan. Kayu ilegal itu merusak hutan, dan hutan itu nyawa kita. Kalau kamu beli kayu legal, kamu ikut menjaga bumi. Jadi pilih yang baik, bukan yang murah. Kamu bisa bangun rumah yang indah, tanpa merusak alam. Aku percaya kamu bisa!
maulana kalkud
Bro, bengkirai tuh aslinya dari Kalimantan Timur, bukan Kalimantan Tengah. Kalau kamu beli yang dari Tengah, biasanya lebih lembek. Aku pernah beli dari pasar tradisional, ternyata kayu karet yang dicat kuning. Jangan percaya warna, cek beratnya. Kalau terasa ringan kayak kayu kelapa, ya jangan diambil. Dan jangan lupa, tulisannya ‘bengkirai’ bukan ‘bengkiraih’ atau ‘bengkiri’ 😅
nasrul .
Apakah keindahan kayu itu hanya soal ketahanan? Atau justru soal kisah di baliknya? Setiap serat kayu bengkirai adalah kenangan hutan yang tumbuh selama puluhan tahun. Kita memotongnya, tapi apakah kita menghargainya? Mungkin yang kita butuhkan bukan hanya kayu terbaik, tapi kesadaran untuk tidak mengambil lebih dari yang diberikan.
NANDA SILVIANA AZHAR
Terima kasih banget buat artikelnya! 🙏 Aku baru aja beli merbau buat lantai kamar, dan ternyata warnanya lebih indah dari yang kubayangin. Aku juga cek kadar air pake kuku, dan alhamdulillah nggak ada jejak. Tapi aku beli dari supplier yang bisa kasih surat jalan, jadi tenang. Kayu itu bukan cuma material, tapi bagian dari rumah yang penuh cinta. 💚
Dicky Agustiady
Baru baca komentar tentang WPC. Aku penasaran, kalau pake WPC di teras, apakah bisa dipaku lagi kalau mau nambah rak? Soalnya aku pengen pasang rak kayu di dinding teras, tapi takut kalau WPC nggak bisa dipaku. Ada yang pernah coba?
Tulis komentar