Kayu kelas 4 sering dianggap sebagai pilihan murah, tapi jangan salah-banyak proyek konstruksi rumah, jembatan, atau tiang listrik yang justru mengandalkan kayu kelas 4 karena ketersediaannya yang banyak dan harganya terjangkau. Tapi apa saja sebenarnya jenis kayu kelas 4? Apakah benar-benar kurang kuat? Dan bagaimana harganya dibandingkan kayu kelas 1 seperti ulin? Ini yang perlu kamu tahu sebelum membeli.
Apa itu Kayu Kelas 4?
Kayu kelas 4 adalah jenis kayu yang memiliki ketahanan alami terhadap serangan serangga dan jamur paling rendah di antara kelas kayu lainnya. Ini bukan berarti kayu ini buruk-hanya saja, ia tidak tahan lama jika dipakai di luar ruangan tanpa perawatan. Kayu kelas 4 biasanya punya densitas rendah hingga sedang, seratnya tidak terlalu padat, dan daya tahan alaminya hanya bertahan 1-5 tahun jika terpapar cuaca dan kelembapan tinggi.
Standar klasifikasi kayu di Indonesia mengikuti SNI 01-7530-2008. Di sini, kayu dibagi menjadi empat kelas berdasarkan uji laboratorium: ketahanan terhadap jamur, serangga, dan keawetan alami. Kelas 1 adalah yang paling awet (seperti ulin dan merbau), sementara kelas 4 adalah yang paling rentan. Tapi jangan langsung menolak kayu kelas 4-banyak yang memakainya untuk dinding dalam, plafon, atau perabot indoor yang tidak terkena hujan.
Jenis Kayu Kelas 4 yang Umum di Pasaran
Berikut daftar kayu kelas 4 yang paling sering ditemukan di pasar Indonesia, terutama di toko material dan pasar kayu di Kalimantan, Sumatra, dan Jawa:
- Kayu Kamper - Aromanya kuat, sering dipakai untuk laci dan lemari karena bisa mengusir ngengat. Tapi mudah retak jika tidak dikeringkan sempurna.
- Kayu Jati Belanda - Bukan jati asli Indonesia, tapi dari luar negeri. Lebih murah dari jati lokal, tapi tidak sekuat jati kelas 1. Cocok untuk interior.
- Kayu Randu - Ringan dan mudah diolah, sering dipakai untuk cetakan cor beton atau scaffolding sementara. Tidak tahan lama di luar.
- Kayu Akasia - Banyak ditanam di lahan kritis. Harganya murah, tapi perlu diawetkan dengan preservatif sebelum dipakai di luar ruangan.
- Kayu Gmelina - Tumbuh cepat, sering jadi pilihan pengganti kayu hutan alam. Cocok untuk pagar, kusen, atau rangka atap jika sudah diawetkan.
- Kayu Sengon - Paling populer di kalangan kontraktor rumah sederhana. Harganya paling murah, tapi harus diawetkan dengan CCA atau borak jika dipakai di tanah atau dekat air.
- Kayu Damar - Ringan dan mudah diukir, sering dipakai untuk dekorasi interior. Tidak tahan air.
Kayu-kayu ini tidak direkomendasikan untuk tiang penyangga, fondasi, atau konstruksi yang bersentuhan langsung dengan tanah atau air hujan. Kalau kamu pakai tanpa perawatan, bisa rusak dalam 2-3 tahun.
Harga Kayu Kelas 4 vs Kayu Kelas 1 (Ulin)
Perbedaan harga antara kayu kelas 4 dan kelas 1 sangat mencolok. Ini bukan soal kualitas semata, tapi soal kelangkaan dan daya tahan alami.
| Jenis Kayu | Kelas Awet | Harga Per M3 | Tahan Hidup (Tanpa Perawatan) |
|---|---|---|---|
| Ulin | Kelas 1 | Rp 18.000.000 - Rp 22.000.000 | 50-100 tahun |
| Sengon | Kelas 4 | Rp 3.500.000 - Rp 4.500.000 | 1-3 tahun |
| Gmelina | Kelas 4 | Rp 3.800.000 - Rp 4.800.000 | 2-4 tahun |
| Akasia | Kelas 4 | Rp 4.200.000 - Rp 5.200.000 | 3-5 tahun |
| Kamper | Kelas 4 | Rp 5.000.000 - Rp 6.500.000 | 5-7 tahun |
Kayu ulin harganya hampir 5 kali lebih mahal dari sengon. Tapi kalau kamu pakai ulin untuk lantai rumah, ia bisa bertahan seumur hidup tanpa diganti. Sementara sengon? Kalau tidak diawetkan, dalam 3 tahun bisa lapuk dan harus diganti. Jadi, hitung biaya jangka panjang-bukan cuma harga awal.
Kayu Kelas 4 Bisa Dipakai untuk Konstruksi? Bisa, Asal...
Beberapa orang berpikir kayu kelas 4 tidak boleh dipakai untuk bangunan. Ini salah. Banyak rumah di desa-desa menggunakan kayu sengon atau akasia untuk rangka atap, dinding, dan kusen-dan bertahan puluhan tahun. Bagaimana caranya?
Perawatan adalah kuncinya. Kayu kelas 4 harus diawetkan sebelum dipasang. Ada dua cara utama:
- Perawatan kimia (pressure treatment) - Kayu dimasukkan ke dalam tangki bertekanan dan diisi bahan pengawet seperti CCA (Chromated Copper Arsenate) atau ACQ (Alkaline Copper Quaternary). Ini membuat kayu tahan terhadap rayap, jamur, dan air. Biayanya tambah Rp 500.000-Rp 800.000 per m³, tapi umur pakainya bisa naik jadi 15-25 tahun.
- Perawatan tradisional - Merendam kayu dalam larutan garam, minyak kelapa, atau asap kayu. Cara ini murah, tapi hasilnya tidak sekuat perawatan kimia. Cocok untuk proyek sementara atau daerah dengan iklim kering.
Contoh nyata: Di Kalimantan, banyak jembatan kecil dan jalan setapak yang pakai kayu sengon yang sudah diawetkan. Mereka tidak pakai ulin-karena harganya terlalu mahal. Tapi mereka tahu cara merawatnya. Hasilnya? Jembatan itu masih berdiri 15 tahun.
Mana yang Lebih Baik: Kayu Kelas 4 yang Diawetkan atau Kayu Kelas 1?
Jika anggaran terbatas dan kamu butuh solusi jangka menengah (10-20 tahun), kayu kelas 4 yang diawetkan adalah pilihan cerdas. Tapi jika kamu ingin bangunan yang tidak perlu diganti seumur hidup, atau kamu membangun rumah untuk diwariskan, ulin tetap pilihan terbaik.
Perbandingan sederhana:
- Ulin - Harga tinggi, tapi tidak butuh perawatan. Cocok untuk fondasi, tiang, atau lantai yang sering kena air.
- Sengon diawetkan - Harga rendah, perlu perawatan rutin (setiap 5 tahun cek lagi). Cocok untuk dinding, plafon, atau rangka atap.
Kalau kamu punya dana Rp 10 juta untuk material kayu, kamu bisa beli 2 m³ sengon diawetkan-cukup untuk dua ruangan besar. Atau kamu bisa beli 0,5 m³ ulin-cukup untuk satu tiang penyangga utama. Pilih sesuai kebutuhan, bukan hanya harga per m³.
Peringatan: Jangan Terjebak Kayu Ilegal atau Kayu Palsu
Pasaran kayu di Indonesia penuh dengan penipuan. Banyak penjual yang menjual kayu kelas 4 sebagai "uli" atau "merbau" palsu. Kayu kelas 4 yang dijual sebagai kelas 1 biasanya sudah diwarnai atau dilapisi resin agar tampak lebih gelap dan keras.
Cara mudah membedakan:
- Warna dan tekstur - Ulin warnanya hitam kecoklatan, sangat padat, dan berat. Kalau kamu angkat satu balok dan terasa ringan seperti kayu biasa, itu bukan ulin.
- Uji gores - Coba gores permukaan kayu dengan kunci. Ulin tidak akan tergores. Kayu kelas 4 seperti sengon akan mudah tergores.
- Surat jalan resmi - Pastikan ada dokumen dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Kayu ilegal tidak punya ini.
Belilah dari toko yang punya reputasi dan bisa menunjukkan sertifikat kayu legal. Jangan tergoda harga murah yang terlalu bagus untuk jadi kenyataan.
Kesimpulan: Kayu Kelas 4 Bukan Musuh, Tapi Pilihan yang Harus Dipahami
Kayu kelas 4 bukanlah kayu buruk. Ia adalah solusi ekonomis yang bisa bekerja sangat baik jika dipakai di tempat yang tepat dan diawetkan dengan benar. Banyak rumah modern di Indonesia-termasuk rumah susun dan rumah subsidi-menggunakan kayu kelas 4 yang sudah diawetkan untuk struktur interior dan atap.
Yang penting: jangan membandingkan kayu kelas 4 dengan ulin tanpa mempertimbangkan perawatan, lokasi pemakaian, dan jangka waktu yang kamu inginkan. Jika kamu butuh keawetan 50 tahun, pilih ulin. Jika kamu butuh solusi terjangkau yang masih awet 15-20 tahun, kayu kelas 4 yang diawetkan adalah pilihan cerdas.
Jangan lupa: selalu cek kelembapan kayu sebelum dipasang. Kayu dengan kadar air di atas 18% akan mudah retak dan berjamur, bahkan jika itu ulin sekalipun.
Kayu kelas 4 bisa dipakai untuk lantai rumah?
Bisa, tapi hanya jika sudah diawetkan dengan bahan kimia seperti ACQ atau CCA. Kayu kelas 4 mentah seperti sengon atau gmelina tidak tahan terhadap kelembapan dan akan cepat melengkung atau berjamur. Untuk lantai, pilih kayu kelas 4 yang sudah diawetkan dan dilapisi cat anti-slip atau minyak kayu.
Apakah kayu kelas 4 lebih ramah lingkungan daripada ulin?
Ya, secara umum. Kayu kelas 4 seperti sengon dan gmelina ditanam secara budidaya di lahan kritis, bukan diambil dari hutan alam. Ulin berasal dari hutan primer yang tumbuh sangat lambat-membutuhkan 80-100 tahun untuk tumbuh dewasa. Jadi, memilih kayu kelas 4 yang berasal dari kebun tanam bisa jadi pilihan lebih berkelanjutan.
Berapa lama kayu kelas 4 bertahan kalau diawetkan?
Dengan perawatan kimia yang benar, kayu kelas 4 bisa bertahan 15-25 tahun, bahkan lebih jika tidak terkena air terus-menerus. Contoh: tiang rumah panggung yang diawetkan bisa bertahan lebih dari 20 tahun di daerah lembap seperti Kalimantan.
Apa perbedaan antara kayu kelas 4 dan kayu kelas 3?
Kayu kelas 3 punya ketahanan alami lebih tinggi daripada kelas 4. Contohnya, kayu jati lokal dan meranti merah masuk kelas 3. Mereka bisa bertahan 5-10 tahun tanpa perawatan. Kayu kelas 4 hanya bertahan 1-5 tahun tanpa perawatan. Jadi, kelas 3 lebih cocok untuk elemen luar ruangan yang tidak terlalu sering kena air.
Di mana bisa beli kayu kelas 4 yang sudah diawetkan?
Toko material besar di kota-kota besar seperti Surabaya, Medan, atau Banjarmasin biasanya menyediakan kayu kelas 4 yang sudah diawetkan. Kamu juga bisa cari pabrik pengawetan kayu di daerah Kalimantan Selatan atau Jawa Timur. Pastikan mereka punya sertifikat pengawetan dari Balai Penelitian Teknologi Kayu dan Hasil Hutan.
Dimas Fn
Kayu sengon memang murah, tapi pasang aja pakai CCA, jangan cuma ngandelin harga murah doang. Aku pake buat rangka atap rumah, udah 8 tahun masih kuat.
Baru ganti kaso pas kena banjir, bukan karena lapuk.
Yang penting perawatan, bukan jenis kayunya.
Handoko Ahmad
Ulin mah mahal banget, tapi kalo kamu beli yang palsu, uangnya ilang, rumahnya juga roboh 😅
Baru 3 bulan pasang, udah rayap. Gue kira ulin, ternyata sengon dicat hitam. Nyesek banget.
Asril Amirullah
Guys, jangan anggap kayu kelas 4 itu 'jelek'! Ini bukan soal kelas, tapi soal paham cara ngelolanya!
Kayu sengon itu kayak teman yang butuh perhatian. Kasih dia pengawet, dia bakal setia sampe 20 tahun.
Di desa aku, rumah panggung pake sengon diawetkan masih berdiri sejak 1998!
Kalo kamu bilang 'gak awet', coba tanya dulu: 'udah diawetkan belum?'
Jangan salahkan kayunya, salahkan cara pake-nya!
Ini bukan soal budget, ini soal ilmu. Dan ilmu ini GRATIS di artikel ini!
Kamu cuma perlu mau baca, mau belajar, mau nggak malu nanya.
Kayu kelas 4 itu bukan musuh, itu teman yang butuh kamu pahami.
Yakin kamu bisa! Jangan takut pilih yang murah, asal pilih yang bener!
Kalau kamu butuh rekomendasi toko pengawetan di Jawa Timur, DM aja. Gue bantu gratis!
Isaac Suydam
Artikel ini cuma jualan obat pengawet. Kayu kelas 4 itu memang sampah. Jangan percaya omongan 'bisa diawetkan'. Semua kayu kelas 4 bakal rusak, cuma waktu aja yang berbeda.
Ulin itu satu-satunya pilihan. Kalau kamu nggak mampu, ya jangan bangun rumah. Lebih baik sewa.
Alifvia zahwa Widyasari
Maaf, tapi ada beberapa kesalahan teknis di artikel ini.
‘Jati Belanda’ bukanlah nama ilmiah, itu istilah pasar. Nama botaninya adalah Tectona grandis, tapi itu jati asli Indonesia. Yang dari luar negeri itu Tectona hamiltoniana atau jati dari Myanmar.
Juga, CCA sudah dilarang di banyak negara karena kandungan arseniknya. Harusnya disebut ACQ atau copper azole.
Dan ‘dapat bertahan 50-100 tahun’ untuk ulin? Itu di kondisi laboratorium. Di lapangan, rata-rata 25-40 tahun saja.
Saya harap penulis lebih teliti sebelum mempublikasikan informasi teknis.
Riyan Ferdiyanto
Kayu kelas 4 itu kayak temen yang sering telat bayar hutang, tapi kalau kamu ingetin tiap bulan, dia tetep bisa dipercaya.
Di Kalimantan, banyak yang pake gmelina buat jembatan kecil, udah 15 tahun masih berdiri. Cuma perlu diawetin, jangan cuma beli terus langsung pasang.
Yang penting: jangan beli kayu yang masih basah. Kadar airnya harus di bawah 15%.
Ini bukan soal kelas, ini soal teknik. Gue nggak pernah beli ulin, tapi rumah gue tetep kuat. Karena gue belajar dulu sebelum beli.
Dicky Agustiady
Menarik banget nih pembahasan. Aku baru tahu kalau kamper bisa mengusir ngengat. Aku selama ini pake kamper cuma buat wewangian, ternyata fungsinya lebih dari itu.
Terus, aku penasaran-kayu akasia yang diawetkan, bisa dipakai buat meja atau kursi di ruang tamu? Atau tetap lebih aman pake kelas 3?
Aku lagi mau renovasi rumah, tapi budget terbatas. Mau pilih yang bijak.
Hari Yustiawan
Wah, ini artikelnya bener-bener ngebuka mata! Aku dulu pikir kayu kelas 4 itu cuma buat kayu bakar, ternyata bisa jadi solusi bangunan yang cerdas!
Kayu sengon itu kayak anak muda: energik, murah, dan cepat tumbuh-tapi butuh bimbingan biar nggak salah jalan.
Kalo kamu pake sengon buat kusen, jangan cuma dicat doang. Harus di-pressure treatment, minimal ACQ. Biaya tambah 700 ribu per m³? Itu cuma setara harga 2 kg emas! Tapi umur rumahmu bisa panjang 15 tahun lebih!
Di kampungku, ada tukang yang punya tangki pengawetan sendiri-dia jual kayu udah diawetin Rp4,2 juta per m³, murah banget dibanding beli mentah terus bayar tukang ngawetin sendiri!
Yang penting: jangan beli dari penjual yang nggak bisa tunjukin sertifikat pengawetan. Kalo dia nggak punya, dia nggak tahu apa-apa.
Ulin itu emang juara, tapi bukan buat semua orang. Kayu kelas 4 yang diawetkan itu juara buat rakyat kecil. Dan itu luar biasa!
Kalau kamu mau, gue bisa bantu cari pabrik pengawetan di Lampung. Gue punya kontaknya. Bisa DM gue, gratis!
maulana kalkud
Bro, kalo beli kayu, jangan lupa cek surat jalan KLHK. Aku pernah beli sengon, pasang 6 bulan trus rayap. Ternyata kayunya ilegal, nggak ada dokumen. Jadi, jangan cuma lihat harga, liat juga legalitasnya.
Ulin emang keren, tapi kalo kamu beli yang ilegal, bisa kena hukum juga. Jangan sampai rumahmu jadi bukti di pengadilan.
Yang penting: beli dari yang jujur. Kayu kelas 4 yang legal dan diawetin, jauh lebih baik dari ulin ilegal.
nasrul .
Kayu kelas 4 itu simbol kapitalisme yang mengeksploitasi alam dengan cara yang lebih halus. Kita diminta percaya bahwa 'kita bisa mengawetkan'-padahal sejatinya kita hanya menunda kehancuran. Ulin adalah kearifan alam yang tak tergantikan. Kita tidak perlu memilih. Kita perlu berhenti membangun.
NANDA SILVIANA AZHAR
Baru aja baca artikel ini, aku langsung nangis ðŸ˜
Ini beneran bikin aku sadar-kayu kelas 4 itu bukan sampah, itu pilihan bijak buat orang-orang yang nggak punya duit banyak tapi tetep pengin punya rumah yang aman.
Aku dari desa, rumah ibu aku pake sengon diawetkan, udah 25 tahun. Masih kuat, masih nyaman.
Kalo ada yang bilang 'itu kayu jelek', mereka belum pernah tinggal di rumah yang dibangun dengan cinta dan kearifan lokal.
Terima kasih, ini artikelnya beneran menyentuh hati. Aku bakal share ke komunitas ibu-ibu di kampungku.
Tulis komentar