Kayu bengkirai sering jadi pilihan utama saat membangun teras, jembatan, atau dek rumah di iklim tropis seperti Indonesia. Tapi banyak yang masih bertanya: kayu bengkirai benar-benar tahan cuaca? Jawabannya ya - tapi tidak serta-merta. Ada syaratnya. Kayu ini punya ketahanan alami yang kuat, tapi jika salah penanganan, bisa rapuh dalam waktu singkat.
Kayu Bengkirai Itu Apa?
Kayu bengkirai (scientific name: Shorea balangeran) adalah jenis kayu keras yang tumbuh di hutan Kalimantan. Nama lokalnya juga disebut yellow balau atau meranti kuning. Kayu ini punya warna kekuningan sampai coklat kehijauan, dengan serat yang padat dan berat jenis tinggi - sekitar 0,85 g/cm³. Itu artinya lebih berat daripada kayu jati biasa. Kepadatan ini jadi salah satu alasan utama kenapa kayu ini tahan lama di luar ruangan.
Dibandingkan kayu biasa seperti kayu pinus atau kayu sonokeling, bengkirai punya kandungan minyak alami dan senyawa fenolik yang alami menolak jamur, jamur, dan serangga. Ini bukan kayu yang butuh perawatan intensif seperti kayu jati yang harus dioles minyak tiap bulan. Tapi bukan berarti bisa dibiarkan begitu saja.
Bagaimana Kayu Bengkirai Tahan Terhadap Cuaca?
Kayu bengkirai bisa bertahan hingga 15-25 tahun di luar ruangan tanpa perawatan khusus - asal dipasang dengan benar. Ini bukan angka sembarangan. Data dari Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Kehutanan (BPPTK) di Banjarmasin menunjukkan bahwa konstruksi dari kayu bengkirai di daerah pesisir Kalimantan Selatan, yang terkena hujan lebat dan kelembapan 80% sepanjang tahun, masih utuh setelah 20 tahun.
Ketahanannya datang dari tiga hal:
- Minyak alami: Kayu ini mengandung minyak yang menghalangi penyerapan air, jadi tidak mudah membengkak atau retak saat hujan.
- Densitas tinggi: Seratnya rapat, jadi air sulit masuk ke dalam pori-pori kayu.
- Senyawa alami anti-rayap: Tidak seperti kayu jati yang masih bisa diserang rayap tanah, bengkirai hampir tidak disentuh rayap karena kandungan kimia alaminya.
Tapi ada satu hal yang sering diabaikan: paparan sinar UV. Meski tahan air, kayu bengkirai akan berubah warna jadi abu-abu keperakan jika terkena matahari langsung tanpa pelindung. Ini bukan kerusakan struktural - ini hanya perubahan estetika. Tapi banyak orang salah mengira ini tanda kayu rusak.
Perawatan yang Benar untuk Kayu Bengkirai di Luar Ruangan
Jika kamu ingin kayu bengkirai tetap terlihat seperti baru, kamu perlu perawatan dasar. Ini bukan perawatan rumit, tapi wajib dilakukan:
- Finishing awal: Sebelum dipasang, oleskan pelapis berbasis minyak alami seperti tung oil atau teak oil. Ini membantu memperkuat lapisan pelindung alami kayu.
- Biarkan kering dulu: Jangan pasang kayu yang masih basah. Kadar air ideal untuk pemasangan adalah 12-15%. Kayu basah akan menyusut setelah kering dan bisa menyebabkan sambungan renggang.
- Gunakan baut stainless: Jangan pakai baut biasa. Logam biasa akan berkarat dan meninggalkan noda hitam di kayu. Baut stainless atau galvanis adalah pilihan terbaik.
- Periksa setiap 6-12 bulan: Lihat apakah ada retak kecil atau jamur. Jika ada, bersihkan dengan sikat kawat dan oleskan ulang minyak.
Sebagian orang berpikir mereka harus mengecat kayu bengkirai. Jangan. Cat akan mengelupas dalam 1-2 tahun karena kayu ini bernapas. Cat justru menjebak kelembapan di dalam, dan itu memicu pembusukan dari dalam. Minyak adalah satu-satunya pelindung yang benar-benar cocok.
Bengkirai vs Kayu Lain: Perbandingan Nyata
Ini tabel perbandingan nyata antara kayu bengkirai dengan beberapa jenis kayu populer lainnya untuk penggunaan luar ruangan:
| Kayu | Tahan Cuaca | Tahan Rayap | Umur Pakai (tanpa perawatan) | Harga per m³ (2026) |
|---|---|---|---|---|
| Kayu Bengkirai | Sangat Baik | Sangat Baik | 15-25 tahun | RP 8.500.000 |
| Kayu Ulin | Sangat Baik | Sangat Baik | 25-40 tahun | RP 15.000.000 |
| Kayu Jati | Baik | Baik | 10-15 tahun | RP 12.000.000 |
| Kayu Sonokeling | Sedang | Sedang | 8-12 tahun | RP 7.000.000 |
| Kayu Pinus | Buruk | Buruk | 3-5 tahun | RP 4.000.000 |
Perhatikan bahwa bengkirai menawarkan keseimbangan terbaik antara harga, ketahanan, dan ketersediaan. Ulin memang lebih awet, tapi harganya hampir dua kali lipat dan sulit didapat secara legal. Jati bagus, tapi butuh perawatan rutin. Bengkirai? Cukup oles minyak sekali setahun, dan kamu sudah lebih dari cukup.
Hal yang Harus Dihindari
Ada beberapa kesalahan umum yang membuat kayu bengkirai cepat rusak:
- Menyimpan kayu di tanah: Jangan letakkan balok bengkirai langsung di tanah. Gunakan bata atau beton sebagai alas. Kelembapan tanah akan menyerap ke kayu dari bawah.
- Menggunakan paku biasa: Seperti disebut tadi, paku karat akan merusak kayu dan meninggalkan noda.
- Menutupi dengan terpal: Banyak orang menutupi dek dengan terpal saat hujan. Ini justru membuat kelembapan terperangkap. Biarkan kayu bernapas.
- Menggunakan pelapis berbasis air: Cat atau pernis berbasis air tidak menempel baik di kayu bengkirai. Hasilnya cepat mengelupas dan mempercepat kerusakan.
Di Mana Kayu Bengkirai Paling Cocok Digunakan?
Kayu bengkirai sangat cocok untuk:
- Terass dan dek rumah
- Jembatan kecil atau jalan setapak di taman
- Pagar luar ruangan
- Atap terbuka atau kanopi
- Konstruksi dermaga atau pelabuhan kecil
Tapi tidak disarankan untuk:
- Konstruksi struktural rumah besar (lebih baik pakai beton atau baja)
- Bagian yang selalu terendam air (seperti tiang pancang di sungai)
- Interior rumah yang terlalu lembap tanpa ventilasi (bisa timbul jamur di permukaan)
Kesimpulan: Apakah Kayu Bengkirai Tahan Cuaca?
Ya, kayu bengkirai tahan cuaca - asal kamu memperlakukannya dengan benar. Ini bukan kayu yang bisa dibiarkan begitu saja, tapi juga bukan kayu yang butuh perawatan rumit. Dengan finishing minyak dasar, penggunaan baut stainless, dan ventilasi yang baik, kayu ini bisa bertahan lebih lama dari atap rumahmu.
Jika kamu membangun teras di Banjarmasin, Pontianak, atau bahkan di Bali, bengkirai adalah pilihan paling masuk akal. Harganya terjangkau, tahan lama, dan tersedia secara legal di banyak toko kayu. Jangan tergoda oleh kayu impor yang mahal dan tidak cocok dengan iklim kita. Kayu lokal, jika dipilih dengan benar, jauh lebih unggul.
Apakah kayu bengkirai bisa digunakan untuk lantai rumah?
Bisa, tapi lebih cocok untuk lantai teras atau ruang terbuka. Untuk lantai dalam rumah, kayu ini terlalu keras dan licin saat basah. Lebih baik pilih kayu jati atau merbau yang lebih halus untuk ruang dalam. Jika tetap ingin pakai bengkirai di dalam, pastikan lantainya dilapisi pelapis anti-slip dan selalu dikeringkan setelah hujan.
Berapa lama kayu bengkirai bisa bertahan di daerah pantai?
Di daerah pantai yang lembap dan berudara asin, kayu bengkirai bisa bertahan 15-20 tahun tanpa perawatan ekstra. Tapi karena garam laut bisa mempercepat korosi pada baut, pastikan semua pengencangnya dari stainless steel. Juga, oles minyak setiap 8-10 bulan untuk menjaga kelembapan alami kayu tetap terjaga.
Apakah kayu bengkirai ramah lingkungan?
Ya, asal kamu membelinya dari sumber yang bersertifikat FSC atau dari hutan tanaman industri yang dikelola secara berkelanjutan. Kayu bengkirai tumbuh lebih cepat daripada ulin, dan banyak petani di Kalimantan sudah beralih ke budidaya terkontrol. Hindari kayu yang tidak memiliki dokumen asal, karena bisa jadi hasil penebangan liar.
Bisakah kayu bengkirai dicat ulang?
Tidak disarankan. Kayu bengkirai tidak menyerap cat dengan baik. Jika kamu ingin mengubah warna, gunakan stain berbasis minyak, bukan cat. Stain akan meresap ke serat kayu tanpa membentuk lapisan yang mengelupas. Jika sudah dicat sebelumnya, kamu harus mengampelas sampai bersih sebelum mengaplikasikan minyak lagi.
Apa perbedaan kayu bengkirai dan kayu ulin?
Ulin lebih berat, lebih keras, dan lebih tahan lama - bisa sampai 40 tahun. Tapi harganya jauh lebih mahal, sekitar 70% lebih tinggi dari bengkirai. Ulin juga lebih sulit dikerjakan karena kekerasannya. Bengkirai lebih mudah dipotong, diampelas, dan dipasang. Untuk kebanyakan proyek rumah, bengkirai sudah lebih dari cukup. Ulin lebih cocok untuk proyek komersial atau struktur berat seperti dermaga besar.