Kayu ulin adalah salah satu jenis kayu paling tahan lama di dunia. Tidak heran kalau banyak orang mencarinya untuk tiang rumah, jembatan, atau lantai eksterior. Tapi sebelum membeli, banyak yang bertanya: di mana pohon ulin berasal? Jawabannya sederhana: pohon ulin asli berasal dari hutan hujan tropis di Kalimantan, terutama di wilayah yang masih alami dan jarang dijamah manusia.
Kayu Ulin Hanya Tumbuh di Kalimantan
Pohon ulin, atau nama ilmiahnya Eusideroxylon zwageri, tidak tumbuh secara alami di tempat lain. Meski ada yang mencoba menanamnya di Sumatra atau Sulawesi, hasilnya tidak sebaik yang tumbuh di Kalimantan. Kayunya lebih keras, lebih tahan terhadap rayap, dan lebih awet. Ini bukan karena teknik penanaman, tapi karena kondisi alaminya yang unik.
Hutan Kalimantan punya tanah yang kaya akan mineral dari sedimentasi sungai besar seperti Kapuas, Barito, dan Mahakam. Curah hujan tahunan di atas 3.000 mm, kelembapan hampir selalu di atas 80%, dan suhu stabil antara 25-30°C. Itu semua adalah resep sempurna untuk ulin tumbuh perlahan-bisa 80-100 tahun sebelum siap ditebang.
Di daerah seperti Kabupaten Kutai Kartanegara, Pulang Pisau, atau Barito Kuala, kamu bisa menemukan hutan ulin yang masih alami. Pohon-pohonnya tinggi, bisa mencapai 60 meter, dengan batang lurus dan tanpa cabang hingga separuh tingginya. Itu sebabnya kayu ulin dari wilayah ini paling dicari: kualitasnya tinggi, seratnya rapat, dan warnanya cokelat kehitaman yang dalam.
Kenapa Kayu Ulin dari Kalimantan Lebih Baik?
Banyak yang mengira semua kayu ulin itu sama. Tidak. Kayu dari Kalimantan punya densitas sekitar 1.200 kg/m³-lebih berat dari air. Itu artinya, kalau kamu jatuhkan sepotong kayu ulin ke laut, dia akan tenggelam. Kayu dari tempat lain, meski disebut "ulin", biasanya densitasnya di bawah 1.000 kg/m³. Artinya, dia lebih ringan, lebih mudah diserang serangga, dan tidak tahan lama.
Sebuah studi dari Balai Penelitian Kehutanan Banjarmasin tahun 2023 menunjukkan bahwa kayu ulin dari Kalimantan Tengah memiliki ketahanan terhadap rayap alami hingga 25 tahun tanpa perawatan. Kayu dari Sulawesi atau Sumatra hanya bertahan 8-12 tahun. Ini bukan karena pengawetan, tapi karena kandungan minyak alami dan senyawa fenolik yang jauh lebih tinggi di kayu Kalimantan.
Minyak alami ini juga membuatnya tahan terhadap jamur, air laut, dan bahkan cuaca ekstrem. Itulah sebabnya jembatan di Pontianak dan bangunan di pulau-pulau kecil Kalimantan yang dibangun 50 tahun lalu masih berdiri kokoh dengan kayu ulin aslinya.
Bagaimana Kayu Ulin Ditebang dan Diproses?
Penebangan kayu ulin tidak bisa dilakukan sembarangan. Pohon ini tumbuh sangat jauh dari jalan, sering di daerah rawa atau lereng curam. Untuk mengeluarkan satu batang kayu ulin, butuh tim 8-10 orang dan waktu 2-3 minggu. Batangnya bisa berat hingga 8 ton, jadi tidak bisa diangkut dengan truk biasa. Biasanya, mereka menggunakan sistem seret dengan tali dan perahu karet.
Setelah ditebang, kayu harus langsung dikeringkan. Kalau tidak, bisa retak atau berjamur dalam hitungan minggu. Proses pengeringan alami di Kalimantan memakan waktu 6-12 bulan, tergantung ketebalannya. Ada yang memakai pengeringan buatan, tapi itu mengurangi kualitas. Kayu yang dikeringkan alami punya kepadatan yang lebih stabil dan tidak mudah melengkung.
Di Samarinda dan Banjarmasin, banyak pengrajin yang masih memakai metode tradisional: mengupas kulit, merendam di air sungai selama 3 minggu untuk mengurangi getah, lalu dijemur di bawah terik matahari. Proses ini tidak cepat, tapi hasilnya jauh lebih tahan lama.
Perbedaan Ulin Kalimantan dan Ulin Lainnya
Beberapa penjual mencoba menjual kayu dari Sulawesi atau Sumatra sebagai "ulin Kalimantan". Ini tidak benar. Kayu dari sana biasanya dari jenis Dryobalanops aromatica atau Shorea spp., yang secara ilmiah bukan ulin. Penampilannya mirip: warna gelap, serat padat. Tapi kalau kamu tes dengan palu, kayu asli ulin Kalimantan tidak akan mengeluarkan suara "klok-klok" seperti kayu biasa. Ia akan mengeluarkan suara "krek"-keras dan pendek-karena kepadatannya.
Di pasar, kamu bisa membedakannya dengan harga. Ulin Kalimantan asli harganya mulai dari Rp12 juta per meter kubik. Kayu "palsu" biasanya dijual di bawah Rp7 juta. Jangan tertipu oleh label "premium" atau "kayu impor". Kalau harganya terlalu murah, kemungkinan besar itu bukan ulin asli.
Bagaimana Membeli Ulin Asli dari Kalimantan?
Jika kamu ingin membeli kayu ulin asli, pastikan kamu tahu asalnya. Cari penjual yang bisa menunjukkan dokumen legal dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, seperti izin pemanfaatan hutan (IPPH) atau sertifikat FSC. Ulin adalah kayu yang dilindungi, jadi penebangan ilegal masih terjadi.
Lebih baik beli dari pengrajin lokal di Kalimantan Timur atau Tengah. Mereka biasanya punya hubungan langsung dengan petani hutan atau koperasi masyarakat adat. Kamu bisa tanya: "Dari mana asal kayunya?" Kalau jawabannya "dari hutan dekat Sungai Mahakam" atau "dari Desa Tengin Baru", itu tanda baik. Kalau jawabannya "dari luar Kalimantan" atau "dari Papua", itu tanda merah.
Untuk proyek besar seperti rumah atau jembatan, minta sampel. Lihat warnanya: asli akan gelap kehitaman, tidak ada corak kuning atau merah. Bau kayunya juga khas: agak manis, seperti kayu cendana basah, bukan bau busuk atau pahit.
Ulin Itu Langka, Tapi Masih Ada
Kayu ulin memang langka. Hutan hujan Kalimantan sudah berkurang 30% dalam 20 tahun terakhir. Tapi bukan berarti tidak ada lagi. Ada program reboisasi yang sedang berjalan di Kabupaten Kotawaringin dan Katingan, di mana pohon ulin ditanam ulang dengan sistem agroforestri. Hasilnya? Pohon baru mulai tumbuh, dan beberapa sudah bisa dipanen pada usia 70 tahun-lebih cepat dari alam liar.
Kamu bisa membantu pelestarian dengan hanya membeli kayu ulin dari sumber yang terkelola secara berkelanjutan. Tidak perlu mahal. Tapi harus jelas asalnya. Kayu ulin yang dilestarikan bukan hanya lebih baik untuk lingkungan, tapi juga lebih awet untuk kamu gunakan.
Jadi, kalau kamu bertanya di mana pohon ulin berasal? Jawabannya bukan hanya "Kalimantan". Tapi: hutan hujan tropis Kalimantan yang masih alami, di tanah yang kaya, di bawah langit yang lembap, dan tumbuh selama lebih dari satu abad. Itu yang membuatnya istimewa. Dan itu juga yang membuatnya tak tergantikan.