Perbedaan Kayu Ulin dan Mesquite: Mana yang Lebih Tahan dan Cocok untuk Indonesia?
When you're choosing wood for decks, doors, or outdoor structures, kayu ulin, kayu keras alami dari hutan Kalimantan yang tahan terhadap rayap, air laut, dan cuaca ekstrem. Also known as kayu besi, it is one of the hardest and most durable woods on Earth, with natural oils that repel insects and moisture. It’s not just strong—it lasts. Many structures made with ulin in Indonesia have stood for over 70 years without chemical treatment. But when people hear "ultrahard wood," they sometimes think of mesquite, kayu impor dari Amerika Serikat dan Meksiko yang juga dikenal keras dan tahan lama, sering digunakan untuk lantai dan furnitur mewah. Is mesquite really better? Or is it just marketed that way?
Kayu ulin tumbuh di hutan tropis Kalimantan dan butuh 80-150 tahun untuk matang. Itu sebabnya kayu ini sangat langka dan harganya bisa mencapai Rp3 juta per batang. Mesquite, di sisi lain, tumbuh cepat di daerah kering seperti Texas dan Meksiko. Ia tidak butuh waktu sepanjang itu untuk dipanen, jadi lebih banyak tersedia dan lebih murah—tapi tidak sekuat ulin. Ulin punya kekuatan alami kelas I, artinya paling tahan terhadap tekanan dan serangan serangga. Mesquite masuk kelas II atau III, jadi butuh pengawet tambahan jika dipakai di luar ruangan. Di Indonesia, cuaca lembap dan serangan rayap adalah masalah nyata. Ulin tidak peduli. Mesquite? Ia bisa lapuk jika tidak dirawat dengan baik.
Perbedaan lain? Ulin berwarna hitam kecoklatan, sangat padat, dan sulit dipotong—butuh alat khusus. Mesquite lebih terang, cenderung merah kekuningan, dan lebih mudah diolah. Tapi itu bukan soal kemudahan. Ini soal ketahanan jangka panjang. Kalau kamu membangun jembatan, dermaga, atau teras rumah yang ingin bertahan 50 tahun tanpa ganti kayu, ulin adalah pilihan logis. Kalau kamu cuma butuh lantai interior yang indah dan tidak terlalu sering terkena hujan, mesquite bisa jadi pilihan estetis. Tapi ingat: ulin punya sertifikasi legal yang sulit didapat karena penebangan ilegal. Mesquite jauh lebih mudah didapat secara legal, tapi jangan lupa—ini kayu impor. Harga transportasi, bea masuk, dan waktu tunggu bisa bikin biayanya melonjak.
Di Indonesia, banyak orang membandingkan ulin dengan bengkirai atau merbau karena sama-sama lokal dan lebih mudah diakses. Tapi mesquite? Jarang dibahas. Itu karena ia tidak cocok untuk iklim kita. Ulin lahir untuk bertahan di hutan basah, di air asin, di tanah berlumpur. Mesquite lahir di gurun. Ia tidak dirancang untuk hujan tropis yang terus-menerus. Jadi, ketika kamu bertanya "mana yang lebih baik?", jawabannya sederhana: jika kamu ingin hasil yang awet, tahan, dan benar-benar cocok untuk rumahmu di Indonesia, maka kayu ulin tetap juaranya. Mesquite bisa jadi pilihan bagus di negara lain. Di sini? Ia hanya jadi tamu yang tidak nyaman.
Di bawah ini, kamu akan menemukan artikel-artikel yang membahas secara mendalam soal kayu ulin—mulai dari harga terbaru, cara membedakan yang asli, hingga alternatif lokal yang lebih ramah lingkungan. Semua dibahas dengan fakta nyata, bukan iklan. Tidak ada yang dibuat-buat. Hanya informasi yang kamu butuhkan sebelum membeli kayu untuk proyekmu.
Apakah Kayu Ulin Sama Dengan Mesquite? Perbedaan Utama dan Penggunaannya
Kayu ulin dan mesquite sering disamakan, tapi keduanya berbeda jauh. Ulin tahan air dan rayap, cocok untuk struktur luar di iklim tropis. Mesquite indah tapi tidak tahan lembap. Pilih yang sesuai kebutuhan, bukan karena harga atau tampilan.